Pages

Rabu, 02 Juni 2010

AL-QUR-AN DAN BUKTI KEOTENTIKANNYA

AL-QUR-AN DAN BUKTI KEOTENTIKANNYA

Makalah

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mandiri Pada Mata Kuliah

Pendalaman PAI di Madrasah

Disusun Oleh : Andri Mutakin (208 203 309)

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2010

KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi Alloh Swt yang telah memberi petunjuk kepada kita, dan tidaklah akan mendapatkan petunjuk seandainya Alloh Swt tidak memberikan petunjuk kepada kita, sehingga penulis dapat merampungkan proses pembuatan makalah yang berjudul: “AL-QUR-AN DAN BUKTI KEOTENTIKANNYA” ini dapat terselesaikan. Karena, hanya dengan anugrah-Nyalah proses pembuatan makalah ini dapat berjalan sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Makalah ini dibuat sebagai salah satu tugas mandiri dari mata kuliah Pendalaman PAI di MAdrasah. Perlu penulis sampaikan, bahwa terselesaikan makalah ini tidak hanya dibuat oleh sendiri. Tetapi, berkat adanya bantuan serta dorongan dari:

Yang tercinta Ayah dan Bunda, yang telah memberikan kasih sayang, perhatian, motivasi, serta bantuan baik moril maupun materil. Robbigh firliy waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaaniy shaghiiroo.

Bapak Hariman yang telah membimbing penulis dengan tiada henti serta tanpa adanya rasa bosan sedikitpun dalam hati beliau, sehingga dari awal sampai terselesaikannya makalah ini tiada lain berkat dorongan dan bimbingannya.

Sahabat-sahabat tercinta, rekan-rekan seperjuangan, serta ikhwatul iman yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis ucapkan banyak terima kasih atas semua perhatian, bimbingan, serta jasa yang telah diberikan pada penulis. Semoga segala kebaikan yang telah diberikan mendapat ganjaran dari Alloh Swt. Jazakumulloh khoiron katsiron.

Bandung, Maret 2010

Wassalamu`alaikum,

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ i

DAFTAR ISI............................................................................................................ ii

BAB I ....................................................................................................................... 1

1.1 Pendahuluan........................................................................................................ 1

BAB II Pembahasan................................................................................................ 2

2.1 Pengertian Al-Qur-an........................................................................................... 2

2.2 Otentitas Al-Qur-an............................................................................................. 8

2.3 Bukti-Bukti Kebenaran Al-Qur-an...................................................................... 14

BAB III PENUTUP………………………………………………………………20

3.1 Simpulan.............................................................................................................. 20

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 21

BAB I

1.1 Pendahuluan

Sekolah : MA

Mata Pelajaran : Al-Qur-an-Hadits

Kelas Semester : X/1

Aspek : Al-Qur-an

Standar Kompetensi :

  1. Memahami pengertian Al-Qur-an dan bukti keotentikannya

Kompetensi Dasar :

1. Menjelaskan pengertian Al-Qur-an menurut para ahli

2. Membuktikan keotentikan Al-Qur-an ditinjau dari segi keunikan redaksinya,

3. Menunjukan perilaku orang yang meyakini kebenaran Al-Qur-an.

Di akhir abad ke-20, gairah umat Islam Indonesia khususnya, dan umat Islam di Dunia umumnya, dalam melakukan studi ke Islaman menunjukan keadaan yang cukup menggembirakan. Kesadaran ini muncul mungkin bertolak dari suatu keyakinan bahwa dengan memiliki pemahaman tentang Islam yang kualitatif dan komprehenshif, seseorang akan memiliki sikap moral yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan dan problema kehidupan yang semakin kompleks. Sementara itu, rontoknya ideology komunis di Eropa Timur dan adanya tanda-tanda kegagalan system kehidupan model kapitalisme yang saat ini semakin memprkuat dominasinya, semakin menggiring perhatian umat terhadap Islam sebagai satu-satunya alternative system kehidupan yang menawarkan kedamaian, keharmonisan dan kesejahteraan secara total diantara umat manusia.

Namun demikian, sosok Islam yang menawarkan citra idealnya itu perlu dibangun melalui proses pengkajian secara sistematik dan komprehensif pula. Pemahaman Islam yang demikian hanya mungkin muncul dari pemahaman yang tepat terhadap Al-Qur-an dan Hadits.

Dalam persfektif pemikiran di atas, tulisan ini berupaya mencoba menjelaskan hal-hal yang dasar dan dibutuhkan dalam memahami ajaran Islam. Memahami kebutuhan manusia terhadap agama mengenai pemahaman terhadap Al-Qur-an sebagai bukti kebenaran Islam. Sehingga penulis memberikan judul :

AL-QUR-AN DAN BUKTI KEOTENTIKANNYA”

BAB II

AL-QUR-AN DAN BUKTI KEOTENTIKANNYA

2.1 Pengertian Al-Qur-an

Dari segi bahasa, terdapat berbagai pendapat para ahli mengenai pengertian Al-Qur-an. Sebagian berpendapat, penulisan lafal Al-Qur-an dibubuhi huruf hamzah (dibaca القرأّّن). Pendapat lain mengatakan penulisannya tanpa dibubuhi huruf hamzah (dibaca القران). As-Syafi`i, al-Farro, dan al-`Asy`ari termasuk diantara para ulama yang berpendapat bahwa lafal Al-Qur-an ditulis tanpa huruf hamzah.[1]

Al-Syafi`i mengatakan, lafal al-Qur-an yang terkenal itu bukan musytaq (pemecahan dari akar kata apapun) dan bukan pula berhamzah (tanpa tambahan huruf hamzah ditengahnya , jadi dibaca al-Qur-an). Lafal tersebut sudah lazim digunakan dalam pengertian Kalamulloh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Dengan demikian menurut al-Syafi`i, lafal tersebut bukan berasal dari akar kata qoro-a (membaca), sebab kalau akar katanya qoro-a, tentu tiap sesuatu yang dibaca dapat dinamai al-Qur-an . lafal tersebut memang nama khusus bagi al-Qur-an, sama dengan nama Taurat dan Injil.[2]

Al-Farro[3], sebagaimana al-Syafi`i berpendapat bahwa al-Qur-an bukan musytaq dari kata qoro-a, tetapi pecahan dari kata qoro`in (jamak dari qorinah) yang berarti; kaitan, karena ayat-ayat al-Qur-an satu sama lain saling berkaitan. Karena itu huruf nun pada akhir lafal al-Qur-an adalah huruf asli bukan huruf tambahan.[4] Dengan demikian, kata al-Quran itu dibaca dengan bunyi al-Quran, bukan al-Qur-an.[5]

Masih sejalan dengan pendapat di atas, al-Asy`ari dan pengikutnya mengatakan, lafal al-qur-an adalah musytaq atau pecahan dari akar kata qorn. Ia mengemukakan contoh kalimat qornusy-syai bisyai (menggabungkan sesuatu dengan sesuatu). Kata qorn dalam hal ini bermakna gabungan atau kaitan, karena surah-surah dan ayat-ayat al-Qur-an saling bergabung dan berkaitan.[6]

Tiga pendapat di atas pada prinsipnya berkesimpulan bahwa lafal al-Qur-an adalah al-Quran (tanpa huruf hamzah ditengahnya). Hal ini berbeda dengan pemakaian kaidah pembentukan kata yang umum digunakan dalam bahasa Arab. Meskipun demikian, ketiga pendapat tersebut memperlihatkan fungsi dan kedudukan al-Qur-an sebagai kitabulloh yang ayat-ayatnya saling berkaitan satu sama lain sehingga merupakan satu kesatuan yang serasi.

Di antara para ulama yang berpendapat bahwa lafal al-Qur-an di tulis dengan tambahan huruf hamzah diengahnya adalah al-Zajjaj, dan al-Lihyani.[7]

Menurut al-Zajjaj, lafal al-Qur-an ditulis dengan huruf hamzah ditengahnya berdasarkan pola kata (wazn) fu`lan. Lafal tersebut bentukan (musytaq) dari akar kata qor`un yang berarti jam`un. Selanjutnya ia mengemukakan contoh kalimat quri`al ma`u fil haudi yang artinya: air itu dikumpulkan dalam kolam. Dalam kalimat ini kata qor`un bermakna jam`un yang dalam bahasa Indonesia bermakna kumpul. Alasannya, Al-Qur-an “mengumpulkan” atau “menghimpun” intisari kitab-kitab suci terdahulu.[8]

Sebagaimana al-Zajjaj, al-Lihyani berpendapat bahwa lafal al-Qur-an ditulis dengan huruf hamzah ditengahnya berdasarkan pola kata ghufron dan merupakan pecahan (musytaq) dari akar kata qoro-a yang bermakna talaa (تلا / membaca). Lafal al-Qur-an digunakan untuk menamai sesuatu yang dibaca, yakni objek dalam bentuk masdar.[9]

Pendapat terakhir ini adalah pendapat yang lazim dipegang oleh masyarakat pada umumnya. Sejalan dengan pendapat tersebut Hasbi Ash-Shiddieqy mengatakan, al-Qur-an menurut bahasa, ialah bacaan atau yang dibaca. Al-Qur-an adalah masdar yang diartikan dengan arti isim marfu`, yaitu maqruu, yang dibaca.[10] Menurut Shubhi As-Sholih, pendapat ini lebih kuat dan lebih tepat, karena dalam bahasa Arab lafal al-Qur-an adalah bentuk masdar yang maknanya sinonim dengan qiro`ah, yakni bacaan.[11]

Untuk memperkuat pendapatnya ini, subhi Asholih mengutip ayat yang berbunyi:

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ. فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ.

Artinya : “Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.”

Lafal qoro-a yang bermakna talaa (membaca) diambil orang-orang Arab dari bahasa Aramia dan digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Kata qoro-a tersebut dapat pula bararti menghimpun dan mengumpulkan huruf-huruf dan kalimat-kalimat dalam bacaan.[12]

Dengan mengikuti beberapa pendapat di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa secara lughowi (bahasa) al-Qur-an berarti saling berkaitan, berhubungan satu ayat dengan ayat lain, dan berarti pula bacaan. Semua pengertian ini memperlihatkan kedudukan al-Qur-an sebagai Kitabulloh yang ayat-ayat dan surat-suratnya saling berhubungan, dan ia merupakan bacaan bagi kaum muslimin.

Dari segi istilah para ahli memberikan definisi al-Qur-an sebagai berikut: menurut Manna` al-Qoththon, al-Qur-an adalah kalamulloh yang diturunkan kepada muhammad Saw dan membacanya adalah ibadah. Term kalam sebenarnya meliputi seluruh perkataan, namun karena istilah itu disandarkan (diidhofatkan) kepada Alloh (kalamulloh), maka tidak termasuk dalam istilah al-Qur-an perkataan yang berasal selain dari Alloh, seperti perkataan manusia, jin dan malaikat. Dengan rumusan yang diturunkan kepada Muhammad Saw berarti tidak termasuk segala sesuatu yang diturunkan kepada para nabi sebelum Muhammad Saw, seperti Zabur, Injil, dan Taurot. Selanjutnya dengan rumusan “membacanya adalah ibadah” maka tidak termasuk hadits-hadits Nabi. Al-Qur-an diturunkan Alloh dengan lafalnya. Membacanya adalah perintah, karena itu, membaca al-Qur-an adalah ibadah.[13]

Definisi lain mengenai al-Qur-an dikemukakan oleh al-Zarqoni sebagai berikut:

القران هو اللفظ المنزل عللى محمد (ص) من اول الفاتحة الى اخرالناس

“Al-Qur-an itu adalah lafal yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, dari permulaan surat al-fatihah sampai akhir surat an-nas.”

Abdul Wahhab Khollaf memberikan definisi sebagai berikut:

القران هو كلام الله الذى نزل به الروح الامين على قلب رسول الله محمدابن عبدالله بالفاظه العربية ومعانيه الحقة، ليكون حجةللرسول على انه رسول الله، ودستورالناس يهتدون بهداه، وقربة يتعبدون بتلاوته، وهوالمدون بين دفتى المصحف، المبدوء بسورةالفاتحة المختوم بسورةالناس، المنقول الينا بالتواتر كتابة ومشافهة جيلا عن جيل مخفوظا من اي تغيير او تبديل.

“Al-Qur-an adalah firman Alloh yang diturunkan kepada hati Rosululloh, Muhammad bin Abdullah melalui al-Ruhul Amin (Jibril as) dengan lafal-lafalnya yang berbahasa Arab dan maknanya yang benar, agar ia menjadi hujjah bagi rosul, bahwa ia benar-benar Rosululloh, menjadi undang-undang bagi manusia, memberi petunjuk kepada mereka, dan menjadi sarana pendekatan diri dan ibadah kepada Alloh dengan membacanya. Al-Qur-an itu terhimpun dalam mushaf, dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-nas, disampaikan kepad kita secara mutawatir dari generasi ke generasi secara tulisan maupun lisan. Ia terpelihara dari perubahan atau pergantian.[14]

Jika ketiga definisi di atas dihubungkan antara satu dan lainnya, nampak saling melengkapi, dan definisi ketiga nampaknya lebih lengkap.

Dari definisi-definisi tersebut terdapat sifat-sifat yang membedakan al-Qur-an dari kitab-kitab lainnya. Sifat-sifat tersebut adalah sebagai berikut:

1) Isi al-Qur-an

Dari segi isi, al-Qur-an adalah kalamulloh atau firman Alloh. Dengan sifat ini, ucapan Rosululloh, Malaikat, Jin, dan sebagainya tidak dapat disebut al-Qur-an. Kalamulloh mempunyai keistimewaan-keistimewaan yang tidak mungkin dapat ditandingi oleh perkataan lainnya. Hal ini akan jelas terlihat dalam pembahasan mengenai mukjizat al-Qur-an.

2) Cara turunnya

Dari segi turunnya, al-Qur-an disampaikan melalui malaikat Jibril yang terpercaya (al-Ruh al-Amin). Dengan demikian, jika ada wahyu Alloh yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, tanpa perantaraan malaikat Jibril, seperti hadits qudsi, (hadits yang lafalnya dari Rosululloh dan maknanya dari Alloh), tidak termasuk al-Qur-an.atau mungkin wahyu-wahyu lainnya yang tidak tertulis yang disampaikan Tuhan kepada manusia dalam bentuk ilham dan sebagainya tidaklah dapat disebut al-Qur-an. Al-Quran terbatas pada jenis wahyu yang tertulis dalam bahasa Arab dan disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril.

3) Pembawanya

Dari segi pembawanya, al-Qur-an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw bin Abdullah, seorang rosul yang dikenal bergelar al-Amin (terpercaya). Ini berarti bahwa wahyu Tuhan yang disampaikan kepada Nabi lainnya tidak dapat disebut al-Qur-an.

4) Fungsinya

Dalam definisi al-Qur-an tersebut di atas disebutkan bahwa al-Qur-an antara lain berfungsi sebagai dalil atau petunjuk atas kerosulan Muhammad Saw, pedoman hidup bagi umat manusia, menjadi ibadah bagi yang membacanya, serta pedoman dan sumberpetunjuk dalam kehidupan.

5) Susunannya

Al-Qur-an terhimpun dalam suatu mushaf yang terdiri dari ayat-ayat dan surat-surat. Ayat-ayat al-Qur-a disusun sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad Saw. Karena itu, susunan ayat ini bersifat taufiqi. Sedangkan urutan surat yang dimulai dengan al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas disusun atas ijtihad, usaha dan kerja keras para sahabat di zaman pemerintahan kholifah Abu Bakar dan Utsman bin Affan. Para sahabat yang menyusun surat-surat tersebut terkenal jujur, cerdas, pandai, sangat mencintai Alloh dan rosul, dan hidup serta menyaksikan hal-hal yang berkaitan pada waktu ayat al-Qur-an turun.

6) Penyampaiannya

Al-Qur-an di sampaikan kepada kita dengan cara mutawatir, dalam arti, disampaikan oleh sejumlah orang yang semuanya sepakat bahwa ia benar-benar wahyu Alloh Swt, terpelihara dari perubahan atau pergantian.

Al-Qur-an mempunyai nama yang bermacam-macam. Ada yang menyebutnya berjumlah 55 nama. Adapula yang mengatakan 90 nama.[15] Namun dari sekian banyak nama tersebut yang termashur hanya empat, yaitu Al-Qur-an itu sendiri, al-Kitab, al-Furqon, dan al-Dzikr.

Pertama, dinamai al-Qur-an, sesuai dengan bunyi ayat:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ. نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ.

Artinya : “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.”

{Q.S Yusuf (12) : 2-3}

Kedua, dinamai al-Furqon karena firman Alloh:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Artinya : “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”

{Q.S Al-Furqon (25) : 1}

Ketiga, disebut al-Kitab, sebab Alloh menyebutnya dalam ayat:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur'an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.”

{Q.S Al-Kahfi (18): 1}

Keempat, dinamakan al-Dzikr karena Alloh member nama demikian:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” {Q.S Al-Hijr (15): 9}

Disamping nama-nama tersebut tercantum dalam al-Qur-an sendiri, penamaan itu juga disandarkan atas alas an tertentu. Al-Qur-an dinamai al-Qur-an karena ia dibaca, pembacaannya adalah ibadah, dan orang yang membacanya adalah mendapat pahala. Dinamai al-Furqon karena ia memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Dinamai al-Kitab karena ditulis, dan dinamai al-Dzikr karena ia berisi peringatan dari Alloh Swt. Didalamnya Alloh menerangkan hal-hal yang halal, haram, hudud, faroidl, dll. Ia dinamai al-Dzikr juga karena itu merupakan sebutan yang mulia.[16]

Nama-nama tersebut setelah dijelaskan di atas, ternyata menggambarkan keluasan fungsi, kandungan dan kedudukan al-Qur-an, yaitu sebagai bacaan, pemisah antara yang hak dan bathi, tulisan dan peringatan bagi manusia. Nama-nama tersebut tidak dijumpai sebagaimana pada kitab lainnya.

2.2 Otentitas Al-Qur-an

Yang dimaksud dengan otentitas al-Qur-an dalam pembahasan ini adalah bahwa al-Qur-an yang ada pada kita sekarang ini benar-benar terpelihara kemurniannya. Dari definisi al-Qur-an sebagaimana disebutkan di atas terlihat bahwa al-Qur-an itu murni, asli, tanpa ada perubahan, penambahan atau pengurangan sedikitpun. Masalah ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Masa Turunnya

Al-Qur-an diturunkan secara berangsur-angsur dalam waktu lebih kurang 23 tahun. Menurut beberapa riwayat, setelah bi`tsah, Rosululloh Saw hidup di Mekah selama 13 tahun, kemudian hijrah kemadinah dan bermukim dikota ini hingga akhir hayatnya, yakni selama 10 tahun. Ibn Abbas mengatakan, Rosululloh diangkat sebagai nabi dan rosul dalam usia 40 tahun. Setelah bi`tsah beliau tinggal di Mekah 13 Tahun dan selama itu beliau menerima wahyu. Beliau wafat dalam usia 63 tahun. Beberapa sumber riwayat memperkirakan masa turunnya wahtu seluruhnya 20 tahun, tetapi ada juga yang memperkirakan kurang lebih 25 tahun, namun yang masyhur adalah 23 tahun.

Menurut al-Sya`bi, al-Qur-an mula-mula turun pada malam qodar (lailatul qodar). Setelah itu, ia terus diturunkan secara berangsur-angsur. Pendapat ini berdasarkan pada firman Alloh Swt.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan.” {Q.S Al-Qodr (17) : 106}

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلا

Artinya: “Dan Al Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” {Q.S Al-Isro (17) : 106}

Tujuan Al-Qur-an diturunkan secara berangsur-angsur itu adalah agar Rosululloh Saw dan para sahabatnya dapat menyimak, memahami, mengamalkan, dan memeliharanya dengan baik. Rosululloh membacakannya di hadapan para sahabatsecara perlahan-lahan dan para sahabat membacanya sedikit demi sedikit.

Selain itu al-Qur-an diturunkan berkaitan dengan suatu peristiwa, baik bersifat individual maupun social (kemasyarakatan). Dengan cara seperti ini proses pemeliharaan kemurnian al-Qur-an berjalan dengan sendirinya.

Demikian pula mengenai lailatul qodr yang menandai permulaan turunnya al-Qur-an. Penetapan mala mini dimaksudkan agar manusia dapat mengingatnya, sehingga ia akan terus diingat dan dikenang. Ini juga merupakan bentuk lain dari upaya pemeliharaan kemurnian al-Qur-an, disamping menunjukan ke agunganNya.

Sehubungan dengan proses turunnya al-Qur-an, rosululloh mengerahkan sejumlah penulis untuk mencatat seteliti mungkin. Zaid bin Tsabit adalah sekretaris utama Rosululloh yang mencatat ayat-ayat al-Qur-an yang turun. Di samping Zaid, tercatat pula nama-nama sahabat lain yang diperintahkan menulis al-Qur-an seperti Abu bakar, Umar, Utsman, Ali, Zubair bin awwam, Abdullah bin Sa`ad, dan Ubay bin Ka`ab. Ayat-ayat tersebut ditulis di atas batu, tulang, pelepah kurma, dll.[17] Selain pencatat ada pula sejumlah sahabat yang menghafal ayat-ayat al-Qur-an secara professional. Sebelumnya, mereka adalah para penghafal syair-syair Jahiliyah. Merekalah yang menyebarkan al-Qur-an ke daerah-daerah serta meneruskannya dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Semua ini merupakan bagian dari kehendak Alloh untuk memelihara al-Qur-an. Disetiap zaman Alloh menciptakan orang-orang yang dengan mudah dapat menghafal ayat-ayat al-Qur-an. Alloh Swt menegaskan dalam firmanNya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” {Q.S al-Hijr (15) : 9}

2) Yang Menyampaikan Al-Qur-an.

Al-Qur-an member informasi bahwa ia diturunkan dari lauh mahfudz ke dunia melalui Malaikat Jibril. Lauh Mahfudz adalah tempat yang terpelihara semacam disket dalam system computer yang terpelihara secara apik dari gangguan dan pengrusakan. Hal ini dijelaskan dalam ayat yang berbunyi:

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ. فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ.

Artinya: “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur'an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lohmahfuz.” {Q.S Al-Buruj (85) : 21-22}.

Jibril yang tampil sebagai mediator proses turunnya ayat dari Tuhan kepada Nabi Muhammad Saw, dikenal sebagai malaikat yang dimuliakan Tuhan. Ia juga dikenal dengan julukan al-Ruhul Amin, malaikat yang terpercaya. Hal ini dapat menambah argument di atas bahwa al-Qur-an benar-benar terjaga kemurniannya karena mediatornya adalah utusan yang terpercaya. Dalam hubungan ini Alloh Swt berfirman:

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

Artinya: “Sesungguhnya Al Qur'an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia.” {Q.S Al-Haqqoh (69) : 40}

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الأمِينُ. عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ

Artinya: “dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” {Q.S As-Syu`aro (26) : 193-194}

Disamping itu, malaikat pada umumnya adalah hamba Alloh yang sangat patuh kepada Tuhan dan tidak mau berbuat dosa atau berkhianat. Firman Alloh Swt:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ. لا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ.

Artinya: “Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak", Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. {Q.S Al-Anbiya (21) : 26-27}

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

{Q.S At-Tahrim (66) : 6}

Memperhatikan sifat-sifat Jibril dan malaikat pada umumnya, sebagaimana diungkapkan dalam ayat-ayat di atas maka mustahil Jibril berbuat dusta atau mengubah wahyu yang harus disampaian kepada Nabi Muhammad Saw. Dengan kata lain, wahyu yang disampaikan melalui malaikat Jibril itu terjamin keasliannya.

3) Penerima Al-Qur-an

Sebagaimana disebutkan di atas, wahyu dari Alloh Swt disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril. Sebagai penerima wahyu, Nabi Muhammad dianugrahi Alloh sifat-sifat mulia yang mustahil ia berdusta.

Akhlaq beliau sangat agung. Hal ini ditegaskan Alloh dalam firmanNya:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

{Q.S Al-Qolam (68) : 4}

Sejarah perjuangan dari riwayat hidupnya ditulis lengkap dan setiap episode dari perjuangannya mengandung nilai-nilai yang luhur. Ribuan buku ditulis mengenai dirinya. Husain Haikal misalnya, menulis buku tebal berjudul hayaatu Muhammad (Riwayat Hidup Nabi Muhammad Saw). Ibnu Qoyyim al-Jauziyah menulis buku Zaadul Ma`ad yang menceritakan kehidupan Nabi Muhammad dari bernagai aspeknya. Bernard Lewis berkata”, Sejarah Muhammad dan asal usul Islam, diakui Ernest Renan, sangat berbeda dengan agama-agama lain. Agama lain dibumbui oleh cerita misteri, sedangkan Islam dilahirkan penuh dengan cahaya sejarah. Akar-akarnya menghujam dalam kehidupan pendirinya. Muhammad Saw kita kenal dengan baik, sebagaimana kita mengenal dengan baik tokoh-tokoh reformer di abad keenam belas.”[18]

Kehebatan Nabi Muhammad tidak hanya diakui oleh penulis muslim, tetapi juga oleh penulis Barat atau Orientalis. Michael Hart, misalnya dalam bukunya The 100, a Ranking of The Most Influential Persons in History (seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah) menempatkan Nabi Muhammad Saw pada urutan teratas. Penempatan ini didasarkan pada alas an bahwa beliau satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.[19]

Keberhasilan tersebut merupakan hal luar biasa karena secara manusiawi beliau lahir dalam keadaan yatim, ayahnya wafat ketika beliau masih dalam kandungan dan ibunya meninggal ketika beliau masih kanak-kanak. Ia tak punya harta dan lahir ditengah-tengah masyarakat yang sudah tersesat jauh. Dalam kondisi demikian beliau mampu mengubah wajah dunia dan perjuangannya mencapai sukses yang mengagumkan. Hal ini digambarkan dalam ayat yang berbunyi:

...... كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

Artinya: “yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).”

{Q.S Al-Fath (48) : 29}

Sikap beliau yang sangat dirasakan pengaruhnya oleh masyarakat antara lain adalah kebenaran, keadilan, kejujuran, amanah, dan berpihak pada pembelaan kaum lemah seperti para budak, kaum wanita, anak yatim, dan orang-orang tertindas lainnya.

Dengan sifat dan sikap yang mulia itu, sangat mustahil beliau memalsukan Al-Qur-an. Apa yang beliau ucapkan tidak lain kecuali wahyu Alloh. Firman Alloh Swt.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى

Artinya: “dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

{Q.S Thoha (53) :3-4}

Selain itu, sebagaimana halnya malaikat Jibril, Nabi Muhammad juga memperoleh gelar al-Amin (orang yang terpercaya) semua yang dikatakannya adalah benar. Beliau adala seorang al-Ummy tak pandai membaca dan menulis. Keadaan ini menunjukan bahwa sebelum al-Qur-an diturunkan beliau perlu dipersiapkan. Kata al-Ummy dapat diumpamakan seperti gelas atau tempat yang steril (suci), karena beliau akan menerima al-Qur-an sebagai kalamulloh yang suci. Dengan demikian sangat jelas bahwa al-Qur-an betul-betul dari Alloh, bukan bikinan beliau.

Dengan sifat dan sikap Rosululloh sebagaimana digambarkan di atas, kemurnian al-Quran yang berada ditangannya benar-benar terpelihara. Untuk menjamin kesesuaian antara al-Qur-an yang diterima nabi dengan wahyu yang diturunkan Alloh, Alloh Swt sering mengutus malaikat Jibril untuk mengecek bacaan Al-Qur-an yang dibaca Rosululloh Saw. Banyak hadits menginformasikan tentang kedatangan Jibril kepada Rosululloh Saw untuk keperluan pengecekan bacaan tersebut.

4) Para Penulis Al-Qur-an

Al-Qur-an terdiri dari 6666 ayat yang dihimpun dalam 114 surat, mulai dari surat al-fatihah sampai surat an-Nas, kemurnian dan keaslian ayat-ayat tersebut dapat dilihat antara lain dari proses penulisannya. Wahyu pertama yang diterima Nabi ialah ayat 1 s/d 5 surat al-Alaq, ketika beliau berada di Gua Hiro, sedangkan wahyu terakhir adalah ayat ke 3 surat al-Maidah, pada waktu beliau wukuf di arofah melakukan HAji Wada` 9 Zulhijah, tahun ke 10 Hijrah, bertepatan dengan 7 Maret 632 M.

Salah satu factor yang dapat menjamin keaslian dan kemurnian al-Qur-an ialah teks al-Qur-an itu ditulis sesuai dengan tuntunan dan petunjuk Rosululloh. Penulisannya dilakukan dihadapan beliau sendiri. Untuk keperluan penulisan tersebut Rosululloh mengerahkan sejumlah penulis seperti Khulafaur Rosyidin yang empat, Amir bin Fuhairoh, Ubay bin Ka`ab, Tsabit bin Qois bin Samas, Zaid bin Tsabit, Mu`awiyyah bin Abi Sufyan, termasuk saudara Abu Sufyan: Yazid bin Syu`bah, Zubair bin Awwam, Kholid bin Walid, `Alla bin Al-Hadhromy, Amr bin `Ash, Abdullah bin Al-Hadromy, Muhammad bin Maslamah, dan Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin salul.[20]

Mereka terkenal sebagai orang-orang yang dekat dengan Rosululloh Saw, pelaku-pelaku sejarah yang mengetahui masalah pada waktu al-Qur-an diturunkan, cinta kepada Rosululloh dan memiliki kualitas keagamaan yang tinggi. Dengan demikian, sikap amanah dan integritas mereka dalam pemeliharaan kemurnian al-Qur-an tidak diragukan lagi.

Hal lain yang mendukung kesucian dan terpeliharanya kemurnian al-Qur-an adalah adanya beberapa Negara Islam dan Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Dinegara-negara tersebut terdapat pusat-pusat studi al-Qur-an, yang mempelajari dan mengkaji al-Qur-an. Selain itu, muncul pula para penghafalyang jumlahnya amat banyak. Di Indonesia sendiri ada lembaga pentashih al-Qur-an yang ditetapkan berdasarkan keputusan menteri Agama RI No. 37 tahun 1957.

Di zaman modern yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, pemeliharaan al-Qur-an akan semakin bias ditingkatkan. Adanya computer, micro film dan alat tekhnologi lainnya dapat membantu meningkatkan pemeliharaan kemurnian al-Qur-an tersebut.

2.3 Bukti-bukti Kebenaran Al-Qur-an.

Diantara bukti kebenaran Al-Qur-an adalah mukjizat al-Qur-an itu sendiri. Yang dimaksud dengan mukjizat ialah sesuatu yang menjadikan manusia tidak mampu menampilkan hal yang sama. Al-Qur-an menentang manusia dan jin untuk menandinginya sekalipun hanya satu surat sampai muncul kesadaran mereka mengakui kelemahan dan ketidakmampuannya. Ketidakmampuan manusia membuat sesuatu yang sama dengan al-Qur-an menunjukan bahwa al-Qur-an adalah benar-benar wahyu Alloh Swt.

Memang, tujuan dari `ijaz al-Qur-an adalah untuk menumbuhkan keyakinan pada manusia bahwa al-Qur-an betul-betul wahyu Alloh Swt, dan sekaligus sebagai bukti kebenaran Muhammad sebagai Rosululloh. Dengan demikian, sasaran mukjizat al-Qur-an adalah non muslim. Sedangkan bagi muslim, kekaguman merekaterhadap al-Qur-an menunjukan adanya keistimewaan dalam al-Qur-an.

Untuk menjawab penolakan orang Quraisy terhadap al-Qur-an sebagai wahyu Alloh Swt, Al-Qur-an menantang mereka dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:

1) Mendatangkan semisal Al-Qur-an. Firman Alloh Swt:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Artinya: “Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".”

{Q.S Al-Isro (17) : 88}

Ayat tersebut merupakan tantangan yang paling aneh dalam sejarah dan banyak menimbulkan kebenaran. Belum pernah dalam sejarah manusia, seorang penulis dengan penuh kemampuan akal dan kesadarannya berani mengajukan tantangan seperti itu. Penulis manapun tidak mungkin menghasilkan suatu karya yang tidak dapat ditantang oleh penulis lain, atau bahkan mungkin karya penulis lain itu lebih baik. Setiap produk manusia dalam bidang apa pun, mungkin saja ditandingi oleh manusia lain. Karena itu, jika ada kata-kata yang tidak mungkin dapat ditandingi, dan ternyata suatu tantangan betul-betul tidak mampu dijawab manusia sepanjang perjalanan sejarah, maka ini betul-betul merupakansuatu mukjizat. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa kata-kata tersebut bukan merupakan produk manusia, tetapi bersumber dari Tuhan (devin origin).[21] Segala sesuatu yang bersumber dari Tuhan tidak mungkin dapat ditandingi.

Pernyataan tersebut didukung oleh fakta sejarah, yaitu peristiwa yang terjadi pada Ibnul Muqoffa, sebagaimana diungkapkan oleh seorang orientalis, Walacestone, dalam bukunya Muhammad; His life doctrin. Peristiwa itu, demikian Walacestone, terjadi ketika sekelompok orang zindikdan tidak beragama tidak senang melihat pengaruh Al-Qur-an terhadap masyarakat. Mereka memutuskan untuk menjawab tantangan Al-Qur-an. Untuk itu, mereka menawarkan kepada Abdullah Ibnul Muqoffa (W.727 M.) seorang sastrawan besar dan penulis terkenal agar bersedia membuat karya tulis semacam Al-Qur-an. Yakin akan kemampuannya, Abdullah menerima tawaran tersebut. Ia berjanji akan menyelesaikan tugas itu dalam waktu satu tahun. Sebagai imbalannya, mereka harus menanggung semua biaya Abdullah selama setahun itu.

Setelah berjalan setengah tahun, kaum aties dan zindik itu mendatangi Ibnul Muqoffa, mereka ingin mengetahui sejauh mana hasil yang dicapai sastrawan tersebut dalam menghadapi tantangan al-Qur-an. Pada waktu memasuki kamar sastrawan asal Persia ini, mereka menemukan Ibnul Muqoffa sedang memegang pena, tenggelam dalam alam pikirannya. Kertas-kertas tulis bertebaran dilantai dan kamarnya penuh dengan sobekan-sobekan kertas yang telas ditulisi.[22]

Penulis terkenal ini telah mencurahkan segenap kemampuannya untuk menjawab tantangan al-Qur-an, tapi ia tidak berhasil dan menemui jalan buntu. Akhirnya ia mengakui kegagalannya. Rasa malu dan kesal menguasai dirinya, sebab lebih dari setengah tahun ia berusaha keras menulis semisal al-Qur-an, namun tidak satu ayat pun yang dihasilkannya. Ibnul Muqoffa memutuskan perjanjian dan menyerah kalah.

2) Mendatangkan sepuluh surat yang menyamai surat-surat yang ada dalam al-Qur-an. Firman Alloh Swt.

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Artinya: “Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Qur'an itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah-surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar".

{Q.S Huud (11) : 13}

Meskipun hanya sepuluh surat, namun ternyata tak ada seorang pun yang dapat melakukannya. Peristiwa Abdullah bin al-Muqoffa di atas merupakan salah satu contoh ketidakmampuan manusia tersebut.

3) Mendatangkan satu surat

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Artinya: “Atau (patutkah) mereka mengatakan: "Muhammad membuat-buatnya." Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar." {Q.S Yunus (10) :38}

Menghadapi tantangan al-Qur-an ini, Musailimah Al-Kadzdzab yang dianggap mampu menandingi al-Quran mencoba mengubah syair sebagai berikut:

يا ضفدع بنت ضفدعين. نقى ما تنقين اعلا ك فى الماء واسفلك فى الطين.

“Hai katak, anak dari dua ekor katak. Bersihkanlah apa yang engkau akan bersihkan, bagian atasmu adalah air dan bagian bawahmu di tanah.”

Al-Jahidz, salah seorang sastrawan Arab terkemuka, dalam bukunya Al-Hayaawan, memberi komentar terhadap gubahan Musailimah tersebut dengan mengatakan, “saya tidak mengerti apa yang menggerakkan hati Musailimah menyebut katak dan sebagainya itu. Alangkah kotornya gubahan dikatakannya sebagai ayat al-Qur-an yang katanya turun kepadanya sebagai wahyu.”

Kegagalan Musailimah menunjukan dengan jelas bahwa al-Qur-an tidak dapat ditiru atau ditandingi. Kenyataan ini merupakan bukti bahwa al-Qur-an benar-benar kalamulloh.

Selain ketidakmampuan manusia menghasilkan karya semacam al-Qur-an terdapat pula beberapa aspek yang menunjukan kemukjizatan al-Qur-an, yaitu bahasa (al-Lughah) yang indah, ringkas, dan padat (balaghoh), petunjuk tentang ilmu pengetahuan (al-isyarat al-`ilmiyat), dan berita-berita mengenai yang ghoib (akhbar al-Ghoib).

Ulama berbeda pendapat dalam memandang ketudakmampuan manusia menandingi al-Qur-an dari aspek lughoh/balaghoh tersebut. Pendapat pertama mengatakan ketidakmampuan manusia itu disebabkan oleh ketinggian dan keindahan susunan bahasa/ balaghoh al-Qur-an. Tokoh yang berpendapat seperti ini ialah as-Suyuti dan Baqillani. Pendapat kedua mengatakan, ketidakmampuan manusia menandingi al-Qur-an karena sharfiah, yakni Alloh memalingkan manusia untuk tidak dapat menandingi kitab suci ini atau menghilangkan kemampuan yang dimiliki manusia sehingga pada saat muncul ide dalam pikirannya untuk membuat semisal al-Qur-an, ide itu hilang ketika ingin mewujudkannya. Andaikata Alloh tidak menghilangkan kemampuan yang ada pada mereka, niscaya mereka mampu membuat semisal (al-Qur-an). Tokoh yang berpendapat seperti ini ialah al-Nadzom.

Untuk memperkuat pendapatnya golongan kedua ini mengemukakan beberapa fakta yang mengisyaratkan bahwa bahasa yang digunakan al-Qur-an adalah bahasa biasa saja. Fakta-fakta tersebut ialah sebagai berikut:

1) Pada waktu Abu Bakar ingin mengumpulkan al-Qur-an ia menyuruh Zaid dan Umar untuk mengumumkan kepada setiap orang yang memiliki naskah al-Qur-an agar membawa naskah itu ke mesjid. Naskah yang diterima adalah naskah yang diperkuat oleh dua orang saksi. Sekiranya al-Qur-an mempunyai keistimewaan bahasa yang membedakannya dari bahasa Arab pada umumnya, tentu tidak diperlukan adanya saksi.

2) Suatu ketika Nabi pernah menyuruh penulis wahyu, Abdullah bin sarah menulis ayat yang dimulai dengan kalimat.

لقد خلقن الإنسان من سلا لة من طين

Sampai dengan

ثم انشأ ناه خلقا اخر

Kemudian Nabi berhenti. Lalu Abdullah dengan kata-katanya sendiri melanjutkan: فتبارك الله احسن الخالقين Kata-kata terakhir ini dimasukkan Nabi sebagai ujung ayat, dan menyuruh Abdullah menuliskannya karena begitulah sesungguhnya ayat turun.

3) Umar bin Khotob pernah mengusulkan agar makam Ibrohim dijadikan Mushola dengan kalimat yang berbunyi: من مقام ابراهيم مصلى dalam menghadapi beberapa kejadian yang dikemukakan oleh golongan kedua di atas, kelompok pertama mengatakan, pada kasus saksi (bagian a), yang dipersaksikan itu bukanlah al-Qur-annya, tetapi naskahnya, yakni betul tidaknya naskah itu ditulis dihadapan nabi. Abu Bakar bukan sekedar ingin mengupulkan al-Qur-an, tetapi juga ingin mengumpulkan naskah yang ditulis dihadapan Nabi. Pemahaman semacam ini diperoleh dari ucapan Zaid sendiri yang mengatakan: “saya hafal ayat لقد جاءكم رسول من انفسكم tetapi tidak saya kemukakan kecuali pada Abi Huzaimah al-Anshori. Ungkapan ini menunjukan bahwa yang dikumpulkan oleh Zaid adalah naskah al-Qur-an, bukan semata-mata lafal al-Qur-an yang telah dihafal oleh beberapa sahabat.

Selanjutnya dari kasus Abdullah bin Sarah dan Umar (bagian 2 dan 3) di atas, memang bisa berarti bahwa mereka memiliki kemampuan menyusun ayat al-Qur-an, akan tetapi mukjizat al-Quran bukan pada ayat, melainkan pada surat, yakni manusia tidak akan mampu membuat satu surat. Orang mungkin mampu membuat satu ayat, tapi ia tidak mungkin membuat sampai satu surat.

Dua aspek kemukjizatan al-Qur-an lainnya (isyarat ilmiah dan akhbar al-ghoib) akan jelas terlihat apabila al-Qur-an dikaitkan dengan pribadi nabi Muhammad dan kondisi masyarakat pada waktu itu yang antara lain ilmu pengetahuan belum berkembang.

Contoh Isyarat Ilmiyah :

1) Al-Qur-an menyebutkan: نشاءكم حرسلكم Ayat ini mengisyaratkan bahwa wanita sebagai ladang tidak menentukan buah. Buah ditemukan oleh petani. Karena itu yang menentukan jenis kelamin anak adalah pihak laki-laki. Perempuan hanya memiliki kromosom “Y”, sedangkan laki-laki memiliki kromosom X dan Y, isyarat ilmiyah semacam ini tidak mungkin ditangkap manusia yang hidup pada tingkat perkembangan ilmu seperti pada masa Nabi.

2) Al-Qur-an menyebutkan: والشمس ضياء والقمر نورا disini ada dua istilah yang sama-sama menunjukan arti cahaya, yaitu dliya dan nur. Berdasarkan penelitian, cahaya ada yang bersumber dari dirinya sendiri, ada pula yang bersumber dari luar dirinya. Untuk yang pertama al-Qur-an menggunakan istilah dliya, sedangkan yang kedua menggunakan istilah nur.

Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin membuktikan kemukjizatan al-Qur-an. Bentuk Akhbar al-Ghoib ada dua macam yaitu:

1) Menyangkut masa lalu. Misalnya firman Alloh dalam surat Yunus ayat 92:

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ.

Artinya: Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”

Dalam ayat ini Alloh menginformasikan bahwa tubuh kasar fir`aun diselamatkan Tuhan, dalam arti tidak hancur. Kenyataan menunjukan bahwa tubuh fir`aun itu sampai sekarang masih ada di Mesir. Menurut Syarah, setelah tenggelam mayat fir`aun diketemukan dipantai, lalu dibalsem oleh orang-orang mesir.

2) Menyangkut peristiwa yang akan datang. Misalnya ayat 2-4 surat ar-Rum. Dalam ayat ini Alloh menyatakan, setelah kerajaan Romawi Timur yang berpusat di Konstatinopel kalah, ia akan menang kembali dalam peperangan melawan musuhnya. Apa yang dinyatakan Al-Qur-an tersebut terbukti kebenarannya sembilan tahun kemudian.

BAB III

PENUTUP

3.1 SIMPULAN

Al-Qur-an adalah firman Alloh yang diturunkan kepada hati Rosululloh, Muhammad bin Abdullah melalui al-Ruhul Amin (Jibril as) dengan lafal-lafalnya yang berbahasa Arab dan maknanya yang benar, agar ia menjadi hujjah bagi rosul, bahwa ia benar-benar Rosululloh, menjadi undang-undang bagi manusia, memberi petunjuk kepada mereka, dan menjadi sarana pendekatan diri dan ibadah kepada Alloh dengan membacanya.

Al-Qur-an diturunkan secara berangsur-angsur dalam waktu lebih kurang 23 tahun. Menurut beberapa riwayat, setelah bi`tsah, Rosululloh Saw hidup di Mekah selama 13 tahun, kemudian hijrah kemadinah dan bermukim dikota ini hingga akhir hayatnya, yakni selama 10 tahun. Al-Qur-an memberi informasi bahwa ia diturunkan dari lauh mahfudz ke dunia melalui Malaikat Jibril.

Al-Qur-an merupakan wahyu dari Alloh Swt disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril. Sebagai penerima wahyu, Nabi Muhammad dianugrahi Alloh sifat-sifat mulia yang mustahil ia berdusta. Al-Qur-an terdiri dari 6666 ayat yang dihimpun dalam 114 surat, mulai dari surat al-fatihah sampai surat an-Nas, kemurnian dan keaslian ayat-ayat tersebut dapat dilihat antara lain dari proses penulisannya.

Diantara bukti kebenaran Al-Qur-an adalah mukjizat al-Qur-an itu sendiri. Yang dimaksud dengan mukjizat ialah sesuatu yang menjadikan manusia tidak mampu menampilkan hal yang sama. Al-Qur-an menentang manusia dan jin untuk menandinginya sekalipun hanya satu surat sampai muncul kesadaran mereka mengakui kelemahan dan ketidakmampuannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abd al-Wahhab Khollaf, ilmu ushul al-fih, al-majelis al-`ala al-indonesia li al da`wah al-Islamiyah, cet. IX, 1972, hlm 23. Lihat pula Muhammad Abd al-Adzim al-Zarqoni, Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur-an, Isa al-Baby al-Halaby Wasyurokauh, juz II, tanpa tahun.

Al-Farro adalah seorang ulama ahli Nahwu dan terkenal pula sebagai ahli bahasa Arab di Kufah. Nama aslinya adalah yahya bin Ziyad al-Dailami dan dijuluki Abu Zakariya. Ia menulis buku tentang ma`ani al-Qur-an (makna al-Qur-an). Wafat tahun 207 H. (Lihat Ath Thobaqot oleh Al-Zabidi hlm. 143-146 dan Wafyatul A`yan, jilid II.

Abuddin Nata, Drs. M.A, Al-Qur-an dan Hadits, LSIK, Jakarta, Cet. VI, 1998.

Subhi Ash-sholih, membahas ilmu-ilmu Al-Qur-an, (terjemahan) Tim Pustaka Firdaus dari judul asli Mabahits fi Ulum al-Qur-an, Pustaka firdaus, Jakarta, Cet. II, 1991.

Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, Jilid I, UI press, 1979.

Ibid.

Nasrudin Rozak, Dienul Islam, Al-Maarif, Bandung, cet. II, 1977.

Manna` al-Qoththon, Mabahits Fi Ulum al-Qur-an, Mansyurot al—Ashr al-Hadits.

Michael H. Hart, seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, Pustaka Jaya, cetakan 10, 1988,

Muhammad Hudhori Bek, Tarikh al-Tasyri al-Islamy, cet. VI, 1954.

Syaikh al-Islam jalaludin Abd al_rohman al-Suyuthi, al-Itqon fi Ulum al-Qur-an, juz I, Mushtofa al-Baby al-Halaby wa Auladuhu bi Mishro, 1951.

T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, sejarah dan pengantar ilmu al-Quran/Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, cet. V.

Waheeduddin Khan, Islam menjawab tantangan zaman, Pustaka, Bandung, cetakan I,



[1] Subhi Ash-sholih, membahas ilmu-ilmu Al-Qur-an, (terjemahan) Tim Pustaka Firdaus dari judul asli Mabahits fi Ulum al-Qur-an, Pustaka firdaus, Jakarta, Cet. II, 1991, hlm 10.

[2] Ibid., hlm. 11.

[3] Al-Farro adalah seorang ulama ahli Nahwu dan terkenal pula sebagai ahli bahasa Arab di Kufah. Nama aslinya adalah yahya bin Ziyad al-Dailami dan dijuluki Abu Zakariya. Ia menulis buku tentang ma`ani al-Qur-an (makna al-Qur-an). Wafat tahun 207 H. (Lihat Ath Thobaqot oleh Al-Zabidi hlm. 143-146 dan Wafyatul A`yan, jilid II, hlm. 228. Lihat pula ibid., hlm. 10.

[4] Ibid., hlm. 11. Lihat pula T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, sejarah dan pengantar ilmu al-Quran/Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, cet. V, 1972, hlm. 17.

[5] Ibid., hlm 17.

[6] Subhi Ash-Sholih, op.cit., hlm. 11.

[7] Ibid., hlm.11

[8] Ibid., hlm 11.

[9] T.M Hasbi Ash Shidieqi, op. Cit. Hlm. 15

[10] Ibid, hlm. 16

[11] Subhi Ash-sholih, loc cit. Hlm 12.

[12] Manna` al-Qoththon, Mabahits Fi Ulum al-Qur-an, Mansyurot al—Ashr al-Hadits, hlm. 20.

[13] Ibid, hlm. 21

[14] Abd al-Wahhab Khollaf, ilmu ushul al-fih, al-majelis al-`ala al-indonesia li al da`wah al-Islamiyah, cet. IX, 1972, hlm 23. Lihat pula Muhammad Abd al-Adzim al-Zarqoni, Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur-an, Isa al-Baby al-Halaby Wasyurokauh, juz II, tanpa tahun, hlm 16.

[15] Syaikh al-Islam jalaludin Abd al_rohman al-Suyuthi, al-Itqon fi Ulum al-Qur-an, juz I, Mushtofa al-Baby al-Halaby wa Auladuhu bi Mishro, 1951. Hlm. 79.

[16] T.M Hasbi Ash-Siddieqy, loc. Cit, hlm. 20

[17] Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, Jilid I, UI press, 1979, hlm 27.

[18] Nasrudin Rozak, Dienul Islam, Al-Maarif, Bandung, cet. II, 1977, hlm. 147.

[19] Michael H. Hart, seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, Pustaka Jaya, cetakan 10, 1988, hlm 27.

[20] Muhammad Hudhori Bek, Tarikh al-Tasyri al-Islamy, cet. VI, 1954.

[21] Waheeduddin Khan, Islam menjawab tantangan zaman, Pustaka, Bandung, cetakan I, hlm. 183

[22] Ibid, Hlm. 187

1 komentar:

islamreguler mengatakan...

la bukti keotentikannya mana...? gimana sih..?

Poskan Komentar