Pages

Selasa, 01 Juni 2010

الباب الأول

طَبِيْعَةُ التَرْبِيَةُ

وَإِذَا كَانَتْ التَّرْبِيَةُ هِىَ إِيْصَالُ الْمُرَبِّيْ إِلَى دَرَجَةِ الْكَمَالِ اَلَّتِى هَيَأَهُ اللهُ لَهَا، عَنْ طَرِيْقِ مُرَاعَاةِ فِطْرَتِهِ، وَتَنْمِيَةُ مَوَاهِبِهِ وَقُدْرَتِهِ وَطَاقَتِهِ بِطُرُقٍ مُتَدَرَّجَةً وِفْقَ مَرَاحَلِ وَتَوْجِيْهِهَا نَحْوِ الْخَيْرِ وَالْحَقِّ وَالْكَمَالِ، فَإِنَّ ذَالِكَ كُلُّهُ يُتِمُّ وِفْقَ نُظُمٍ وَغَايَاتِ الْعِلْمِ، وَالْفَنِّ وَالصَّنَاعَةِ حَسْبُ مَفْهُوْمٍ كُلَّ مِنْهَا فِى مَنْهَجِ التَّرْبِيَةِ الاِنْسَانِيَّةِ.

فَا لتَّرْبِيَِةُ الْعِلْمُ حَيْثُ إِنَّهَا إِخْبَارُ عَنِ الْحَقَاءِقِ الْكُلِيَّةِ وَالْمَعَايِيْرِ وَالْقَيِّمِ الإِلَهِيَّةِ الثَابِتَةِ الَّتِى يَتَلَقَّاهَا الإِنْسَانُ فَيُسْلِمُ بِهَا وَيَتَكَيَّفُ مَعَهَا إِخْبَارٍ. وَهِىَ عِلْمُ مِنْ حَيْثُ إِنَّهَا مَعْرِفَةُ بِقَوَانِيْنِ اللهِ فِى الْكَوْنِ الَّتِى تَمَّ اكْتَشَافُهَا مِنْ قَبْلِ.

وَالتَّرْبِيَةُ عِلْمٌ إِنْشَاءَ مِنْ حَيْثُ إِنَّهَا مُحَاوَلَةٌ لِلْكَشْفِ عَنْ "اَلْحَقِيْقَةِ" وَمَعْرِفَةِ لِلْقَوَانِيْنِ وَلسُّنَنِ الَّتِى خَلَقَ اللهُ الْكَوْنَ عَلَيْهَا وَلَمْ تَكْتَشِفْ بَعْدَ. فَالتَّرْبِيَةُ هُنَاعِلْمٌ مِنْ عُلُوْمِ الْبَحْثِ وَمَنَاهِجِ الْبَحْثِ الَّتِى تَعَيَّنَ الإِنْسَانُ عَلَى الإِكْتَشَافِ وَالإِخْتِرَاعِ.

وَيَدْخُلُ فِيْهَا "اَلْعِلْمُ" فِى الْعُلُوْمِ الإِنْسَانِيَّةِ الَّتِى تَكْتَسِبُ فِيْهَا الْمَعْرِفَةُ عَنْ طَرِيْقِِ الْمُلاخِظَةِ وَالتَّفْكِيْرِ وَالإِلْهَامِ. وَيَدْخُلُ فِيْهَا "اَلْعِلْمُ" فِى الْعُلُوْمِ الطَبِيْعِيَّةِ الَّذِى هُوَالْوُصُوْلُ إِلَى مَعْرِفَةِ قَانُوْنِ اللهِ بِا لْمُلاحِظَةِ وَالتَجْرِبَةِ وَالتَطْبِيْقِ.

إِذَنْ فَالْعِلْمُ وَسِيْلَةٌ مِنْ وَسَاءِلِ التَرْبِيَةِ وَغَايَةِ لَهَا، وَلَكِنْ مِنَ السَّفَاهَةِ الْمَزْرِيَةِ جَعَلَ الْعِلْمِ أَوِ الْعَقْلَ مَصْدَرًا لِلْمَعْرِفَةِ، فَالْمَصْدَرُ هُوَاللهُ. وَمِنَ الْجَهْلِ الْقَوْلُ بِأَنَّ الْعِلْمَ قَدْ اِنْتَصَرَ عَلَى الطَّبِيْعَةِ أَوْ قَهْرِهَا، فَالْعِلْمُ مَا هُوَ إِلا الْوُصُوْلَ إِلَى الْقَانُوْنِ الطَّبِيْعِى الَّذِى الطَبَعَ اللهُ الْكَوْنَ عَلَيْهِ، وَالطَّبِيْعَةُ مَا خُلِقَتْ لِتَقْهُرِ بَلْ لِتَكُوْنَ فِى خِدْمَةِ الإِنْسَانِ، وَالإِنْسَانِ لا يَسْتَطِيْعُ أَنَّ يُقَهِّرَهَا وَلَكِنْ يَسْتَطِيْعُ أَنَّ يَتَلَطِّفُ مَعَهَا وَيَتَعَرَّفُ عَلَى قَوَانِيْنِهَا الَّتِى أَوْ دَعَهَا اللهُ فِيْهَا وَبِذلِكَ يَسْتَفِيْدُ مِنْ خَيْرُتِهَا وَمَكْنُوْنَاتِهَا.

وَالتَّرْبِيَةُ كِفْنُ تَهْدُفُ إِلَى الْوُصُوْلِ بِالْمُرَبِّى إِلَى دَرَجَةِ الإِتْقَانِ أَوِ الإِحْسَانِ فِى الأَدَاءِ فَقِيْمَةُ كُلِّ إِنْسَانٍ بِمَا يَحْسَنُ. وَالْوُصُوْلُ بِالإِنْسَانِ إِلَى دَرَجَةِ أَنْ يَكُوْنَ مُحْسِنَا هُوَ أَعْلَى دَرَجَاتِ الْفَنِّ وَأَرْقَى مَا يَهْدُفُ إِلَيْهِ الْعَمَلُ التَّرْبَوِيَ.

وَإِذَا كَانَتْ اَلتَّرْبِيَةُ ثَابِتَةٌ فِيْمَا يَتَّصِلُ بِأَهْدَافِهَا الْعَامَةِ كَبِنَاءِ الإِنْسَانِ الْعَابِدِ اللهِ، اَلْقَادِرُ عَلَى الْقِيَامِ بِحَقِّ الْخِلافَةِ فِى الْلأَرْضِ وِفْقَ مِنْهَجِ اللهِ. وَإِذَا كَانَتْ ثَابِتَةٌ أَيْضًا فِيْمَا يَتَّصِلُ بِمُحْتَوَاهَا الْخَاصَ بِالْحَقَاءِِقِِ وَالْمَعَايِِيْرِ وَالْقَيِّمِ الإِلهِيَّةِ الثَابِتَةِ، فَإِنَّهَا مُتَطَوَّرَةِ فِيْمَا بَعْدَ ذَالِكَ حَيْثُ إِنَّهَا تُعَدُ الإِنْسَانُ الَّذِى يُعَمِّرُ الْحَيَاةِ وَيُرَقِيْهَا فِى كُلِّ زَمَانٍ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ، وِفْقُ ظُرُوْفِ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ. لَكِنْ ذَالِكَ كُلُّهُ إِنَّمَا يَكُوْنُ وِفْقًا لِلْقَوَاعِدِ الثَابِتَةِ فِى مَنْهِجِ اللهِ وَفِى إِطَارِهَا وُحُوْلِ مُحَوِّرَهَا.

HAKIKAT PENDIDIKAN

Pendidikan merupakan penghubung seorang pendidik kepada derajat yang sempurna yang Allah sediakan baginya, baik dari jalan menjaga fitrahnya, maupun dengan menumbuhkan pemberian, keleluasaan, dan kemampuannya dengan metode-metode yang bertingkat yang sesuai dengan pengarahan contohnya kebaiakan, kebenaran dan kesempurnaan. Sesungguhnya semua hal itu menyempurnakan pengarahan sesuai dengan ajaran dan tujuan-tujuan ilmu dan disiplin ilmu serta hasil produksi sesuai dengan pemahaman dari tujuan ilmu dalam metode pendidikan kemanusiaan.

Pendidikan itu merupakan ilmu yang memberitahukan tentang kebenaran-kebenaran umum, aturan-aturan dan nilai-nilai keTuhanan yang konsisten yang dapat mempertemukan manusia kepada hal tersebut maka manusia akan selamat dengan pendidikan tersebut dan cukuplah dengan hal itu. Pendidikan itu merupakan ilmu yang dibangun dari usaha penyingkapan-penyingkapan kebenaran dan pengetahuan tentang hukum-hukum dan sunat-sunat yang Allah ciptakan di alam semesta ini yang baru terugkap sesudahnya. Pendidikan disini merupakan ilmu-ilmu pembahasan dan metode-metode pembahasan yang menentukan manusia kepada penemuan, inovasi dan kreasi.

Ilmu itu masuk kedalam pendidikan supaya manusia memperoleh pengetahuan dengan metode pengawasan, pemikiran dan ilham. Dan ilmu masuk kedalam pendidikan tersebut pada ilmu pasti yang sampai kepada pengetahuan tentang hukum-hukum Allah dengan pengawasan, percobaan dan pengaflikasian.

Jadi ilmu itu merupakan sarana dari berbagai sarana pendidikan dan terdapat tujuan di dalamnya, akan tetapi dari golongan yang bodoh menjadikan ilmu atau akal sebagai sumber pengetahuan, padahal sumber tersebut adalah Allah. Dan dari ucapan orang bodoh, bahwasanya ilmu memperkuat tabiat atau memaksanya. Maka ilmu tidak lain hanyalah sebagai perantara kepada hokum-hukum pasti yang telah Allah jadikan di alam semesta ini. Dan ilmu pasti itu tidaklah diciptakan untuk memaksakan tetapi sebagai pelayan bagi manusia, dan manusia tidak akan mampu untuk memaksakannya akan tetapi manusia hanya mampu untuk memperhalusnya dan mengetahui terhadap hukum-hukum pasti ini yang telah Allah letakan pada tabi’at tersebut, dan oleh karena itu manusia dapat mengambil manfaat dari kebaikan-kebaikan dan hal-hal yang tersembunyi didalamnya.

Pendidikan seakan-akan sebagai disiplin ilmu yang bertujuan untuk menjadikan seorang pendidik kepada tingkat kemahiran atau keahlian atau kebaikan, dalam pelaksanaanya, dan nilai setiap manusia itu tergantung kepada perbuatan baiknya. Dan penghubung manusia untuk sampai kepada tingkatan baik itu ialah disiplin ilmu yang paling tinggi dan luhur yang bertujuan untuk berbuat yang bersifat mendidik.

Apabila pendidikan itu konsisten dalam menyampaikan tujuan-tujuan umumnya seperti membangun manusia yang beribadah atau ahli ibadah kepada Allah yang mampu untuk melaksanakan hak khilapah di muka bumi ini sesuai dengan ajaran Allah, apabila pendidikan itu konsisten juga bisa menyampikan kandungan-kandungan hokum pasti yang lurus dengan kebenaran-kebenaran, ukuran-ukuran dan nilai-nilai keTuhanan yang konsisten, sesungguhnya hal tersebut berkembang dalam rentan waktu setelah itu, sekiranya hal itu mengembalikan manusia yang memakmurkan kehidupan dan memajukan pada setiap waktu dan tempatnya yang sesuai dengan kondisi waktu dan tempatnya pula. Akan tetapi semua itu hanya berhubungan dengan kaidah-kaidah yang konsisten dalam ajaran Allah dan pada lingkungan sekitarnya.

المناقشة

طَبِيْعَةُ التَرْبِيَةُ

وَإِذَا كَانَتْ التَّرْبِيَةُ هِىَ إِيْصَالُ الْمُرَبِّيْ إِلَى دَرَجَةِ الْكَمَالِ اَلَّتِى هَيَأَهُ اللهُ لَهَا، عَنْ طَرِيْقِ مُرَاعَاةِ فِطْرَتِهِ، وَتَنْمِيَةُ مَوَاهِبِهِ وَقُدْرَتِهِ وَطَاقَتِهِ بِطُرُقٍ مُتَدَرَّجَةً وِفْقَ مَرَاحَلِ وَتَوْجِيْهِهَا نَحْوِ الْخَيْرِ وَالْحَقِّ وَالْكَمَالِ، فَإِنَّ ذَالِكَ كُلُّهُ يُتِمُّ وِفْقَ نُظُمٍ وَغَايَاتِ الْعِلْمِ، وَالْفَنِّ وَالصَّنَاعَةِ حَسْبُ مَفْهُوْمٍ كُلَّ مِنْهَا فِى مَنْهَجِ التَّرْبِيَةِ الاِنْسَانِيَّةِ.

HAKIKAT PENDIDIKAN

Pendidikan merupakan penghubung seorang pendidik kepada derajat yang sempurna yang Allah sediakan baginya, baik dari jalan menjaga fitrahnya, maupun dengan menumbuhkan pemberian, keleluasaan, dan kemampuannya dengan metode-metode yang bertingkat yang sesuai dengan pengarahan contohnya kebaikan, kebenaran dan kesempurnaan. Sesungguhnya semua hal itu menyempurnakan pengarahan sesuai dengan ajaran dan tujuan-tujuan ilmu dan disiplin ilmu serta hasil produksi sesuai dengan pemahaman dari tujuan ilmu dalam metode pendidikan kemanusiaan.

· Kandungannya: : Bahwasannya tugas awal bagi seorang pendidik merupakan mendidik anak didiknya menuju arah yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, kemudian dari tahu-tahu itu dikumpulkan dengan metode-metode tertentu maka itulah yang dinamakan pengetahuan. Maka, melalui proses pendidikan derajat manusia bisa meningkat kepada yang lebih tinggi derajatnya. Sebagaimana dalam firman Alloh Swt dalam Q.S Al-Mujadalah (58) : 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ.

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Manusia tidak akan dapat mencapai kepada derajat itu, kalau manusia tersebut tidak memiliki ilmu pengetahuan. Adapun ilmu pengetahuan hanya akan dapat diperolehnya dengan proses belajar, baik belajar sendiri maupun dengan memperhatikan (tafakur) terhadap realitas yang ada disekitarnya. Sedangkan proses belajar mengajar merupakan bagian yang terpenting dalam proses pendidikan.

Dalam konteks filsafat barat, ada tiga aliran filsafat yang menyatakan akan penting manusia itu harus dididik. Aliran-aliran itu adalah:[1] 1) Aliran Nativisme, manusia harus dididik, sebab perkembangan manusia sepenuhnya ditentukan oleh bakat yang secara alami sudah ada pada dirinya; Aliran Empirisme, kebalikan dari aliran Nativisme, yang menyatakan bahwa perkembangan dan pertumbuhan manusia sepenuhnya ditentukan oleh lingkungannya; dan 3) Aliran konvergensi, yaitu yang memadukan dari kedua aliran sebelumnya, ialah memang manusia memiliki kemampuan dalam dirinya (potensi/bakat; nativisme), tetapi potensi tersebut hanya akan berkembang jika ada pengarahan dan pembinaandari luar (lingkungan; empirisme) (jalaluddin, 2001:45)

Semua hal itu menyempurnakan pengarahan sesuai dengan ajaran dan tujuan-tujuan ilmu dan disiplin ilmu serta hasil produksi sesuai dengan pemahaman dari tujuan ilmu dalam metode pendidikan kemanusiaan.

فَا لتَّرْبِيَِةُ الْعِلْمُ حَيْثُ إِنَّهَا إِخْبَارُ عَنِ الْحَقَاءِقِ الْكُلِيَّةِ وَالْمَعَايِيْرِ وَالْقَيِّمِ الإِلَهِيَّةِ الثَابِتَةِ الَّتِى يَتَلَقَّاهَا الإِنْسَانُ فَيُسْلِمُ بِهَا وَيَتَكَيَّفُ مَعَهَا إِخْبَارٍ. وَهِىَ عِلْمُ مِنْ حَيْثُ إِنَّهَا مَعْرِفَةُ بِقَوَانِيْنِ اللهِ فِى الْكَوْنِ الَّتِى تَمَّ اكْتَشَافُهَا مِنْ قَبْلِ.

وَالتَّرْبِيَةُ عِلْمٌ إِنْشَاءَ مِنْ حَيْثُ إِنَّهَا مُحَاوَلَةٌ لِلْكَشْفِ عَنْ "اَلْحَقِيْقَةِ" وَمَعْرِفَةِ لِلْقَوَانِيْنِ وَلسُّنَنِ الَّتِى خَلَقَ اللهُ الْكَوْنَ عَلَيْهَا وَلَمْ تَكْتَشِفْ بَعْدَ. فَالتَّرْبِيَةُ هُنَاعِلْمٌ مِنْ عُلُوْمِ الْبَحْثِ وَمَنَاهِجِ الْبَحْثِ الَّتِى تَعَيَّنَ الإِنْسَانُ عَلَى الإِكْتَشَافِ وَالإِخْتِرَاعِ.

Pendidikan itu merupakan ilmu yang memberitahukan tentang kebenaran-kebenaran umum, aturan-aturan dan nilai-nilai keTuhanan yang konsisten yang dapat mempertemukan manusia kepada hal tersebut maka manusia akan selamat dengan pendidikan tersebut dan cukuplah dengan hal itu. Pendidikan itu merupakan ilmu yang dibangun dari usaha penyingkapan-penyingkapan kebenaran dan pengetahuan tentang hukum-hukum dan sunat-sunat yang Allah ciptakan di alam semesta ini yang baru terugkap sesudahnya. Pendidikan disini merupakan ilmu-ilmu pembahasan dan metode-metode pembahasan yang menentukan manusia kepada penemuan, inovasi dan kreasi.

· Kandungannya : Melalui pendidikan akan mengetahui tentang kebenaran dan nilai-nilai ke Tuhanan menuju jalan keselamatan. Pendidikan dibangun dari penemuan kebenaran dan pengetahuan yang terungkap setelah turunnya Al-Qur-an dan merupakan ilmu pembahasan serta metode-metode tertentu.

وَيَدْخُلُ فِيْهَا "اَلْعِلْمُ" فِى الْعُلُوْمِ الإِنْسَانِيَّةِ الَّتِى تَكْتَسِبُ فِيْهَا الْمَعْرِفَةُ عَنْ طَرِيْقِِ الْمُلاخِظَةِ وَالتَّفْكِيْرِ وَالإِلْهَامِ. وَيَدْخُلُ فِيْهَا "اَلْعِلْمُ" فِى الْعُلُوْمِ الطَبِيْعِيَّةِ الَّذِى هُوَالْوُصُوْلُ إِلَى مَعْرِفَةِ قَانُوْنِ اللهِ بِا لْمُلاحِظَةِ وَالتَجْرِبَةِ وَالتَطْبِيْقِ.

إِذَنْ فَالْعِلْمُ وَسِيْلَةٌ مِنْ وَسَاءِلِ التَرْبِيَةِ وَغَايَةِ لَهَا، وَلَكِنْ مِنَ السَّفَاهَةِ الْمَزْرِيَةِ جَعَلَ الْعِلْمِ أَوِ الْعَقْلَ مَصْدَرًا لِلْمَعْرِفَةِ، فَالْمَصْدَرُ هُوَاللهُ. وَمِنَ الْجَهْلِ الْقَوْلُ بِأَنَّ الْعِلْمَ قَدْ اِنْتَصَرَ عَلَى الطَّبِيْعَةِ أَوْ قَهْرِهَا، فَالْعِلْمُ مَا هُوَ إِلا الْوُصُوْلَ إِلَى الْقَانُوْنِ الطَّبِيْعِى الَّذِى الطَبَعَ اللهُ الْكَوْنَ عَلَيْهِ، وَالطَّبِيْعَةُ مَا خُلِقَتْ لِتَقْهُرِ بَلْ لِتَكُوْنَ فِى خِدْمَةِ الإِنْسَانِ، وَالإِنْسَانِ لا يَسْتَطِيْعُ أَنَّ يُقَهِّرَهَا وَلَكِنْ يَسْتَطِيْعُ أَنَّ يَتَلَطِّفُ مَعَهَا وَيَتَعَرَّفُ عَلَى قَوَانِيْنِهَا الَّتِى أَوْ دَعَهَا اللهُ فِيْهَا وَبِذلِكَ يَسْتَفِيْدُ مِنْ خَيْرُتِهَا وَمَكْنُوْنَاتِهَا.

Ilmu itu masuk kedalam pendidikan supaya manusia memperoleh pengetahuan dengan metode pengawasan, pemikiran dan ilham. Dan ilmu masuk kedalam pendidikan tersebut pada ilmu pasti yang sampai kepada pengetahuan tentang hukum-hukum Allah dengan pengawasan, percobaan dan pengaflikasian.

Jadi ilmu itu merupakan sarana dari berbagai sarana pendidikan dan terdapat tujuan di dalamnya, akan tetapi dari golongan yang bodoh menjadikan ilmu atau akal sebagai sumber pengetahuan, padahal sumber tersebut adalah Allah. Dan dari ucapan orang bodoh, bahwasanya ilmu memperkuat tabiat atau memaksanya. Maka ilmu tidak lain hanyalah sebagai perantara kepada hukum-hukum pasti yang telah Allah jadikan di alam semesta ini. Dan ilmu pasti itu tidaklah diciptakan untuk memaksakan tetapi sebagai pelayan bagi manusia, dan manusia tidak akan mampu untuk memaksakannya akan tetapi manusia hanya mampu untuk memperhalusnya dan mengetahui terhadap hukum-hukum pasti ini yang telah Allah letakan pada tabi’at tersebut, dan oleh karena itu manusia dapat mengambil manfaat dari kebaikan-kebaikan dan hal-hal yang tersembunyi didalamnya.

· Kandungannya : Ilmu itu masuk melalui pendidikan melalui metode pengawasan, pemikiran dan ilham serta melalui ilmu pasti dengan percobaan secara bertahap yang merupakan sarana dari berbagai sarana pendidikan. Akan tetapi janganlah menjadikan ilmu atau akal itu sebagai sumber pengetahuan karena adakalanya akal itu terbatas kemampuannya, sehingga jadikanlah ilmu itu sebagai perantara kepada hukum-hukum pasti yang telah Allah jadikan di alam semesta ini.

· Dengan adanya pendidikan sains telah membuktikan adanya kehidupan di luar angkasa seperti bulan dan yang lainnya yang diciptakan oleh Alloh Swt tanpa adanya penemuan sebelumnya. Hal itu pun ditemukan secara bertahap, dan berlangsung secara lama melalui proses KBM, akal pikiran dengan bertafakur, dan ilham (intituisi). Dengan melakukan beberapa uji coba dilapangan setempat sehingga didapatkan beberapa penemuan yang dapat diuji kebenarannya.

Proses KBM


Akal Intituisi

وَالتَّرْبِيَةُ كِفْنُ تَهْدُفُ إِلَى الْوُصُوْلِ بِالْمُرَبِّى إِلَى دَرَجَةِ الإِتْقَانِ أَوِ الإِحْسَانِ فِى الأَدَاءِ فَقِيْمَةُ كُلِّ إِنْسَانٍ بِمَا يَحْسَنُ. وَالْوُصُوْلُ بِالإِنْسَانِ إِلَى دَرَجَةِ أَنْ يَكُوْنَ مُحْسِنَا هُوَ أَعْلَى دَرَجَاتِ الْفَنِّ وَأَرْقَى مَا يَهْدُفُ إِلَيْهِ الْعَمَلُ التَّرْبَوِيَ.

Pendidikan seakan-akan sebagai disiplin ilmu yang bertujuan untuk menjadikan seorang pendidik kepada tingkat kemahiran atau keahlian atau kebaikan, dalam pelaksanaanya, dan nilai setiap manusia itu tergantung kepada perbuatan baiknya. Dan penghubung manusia untuk sampai kepada tingkatan baik itu ialah disiplin ilmu yang paling tinggi dan luhur yang bertujuan untuk berbuat yang bersifat mendidik.

· Kandungannya : Pendidikan bertujuan untuk menjadikan seorang pendidik kepada tingkat kemahiran atau keahlian atau kebaikan, dari yang tidak tahu menjadi tahu maka jadilah pengetahuan menuju arah yang positif melalui disiplin ilmu tersebut.

وَإِذَا كَانَتْ اَلتَّرْبِيَةُ ثَابِتَةٌ فِيْمَا يَتَّصِلُ بِأَهْدَافِهَا الْعَامَةِ كَبِنَاءِ الإِنْسَانِ الْعَابِدِ اللهِ، اَلْقَادِرُ عَلَى الْقِيَامِ بِحَقِّ الْخِلافَةِ فِى الْلأَرْضِ وِفْقَ مِنْهَجِ اللهِ. وَإِذَا كَانَتْ ثَابِتَةٌ أَيْضًا فِيْمَا يَتَّصِلُ بِمُحْتَوَاهَا الْخَاصَ بِالْحَقَاءِِقِِ وَالْمَعَايِِيْرِ وَالْقَيِّمِ الإِلهِيَّةِ الثَابِتَةِ، فَإِنَّهَا مُتَطَوَّرَةِ فِيْمَا بَعْدَ ذَالِكَ حَيْثُ إِنَّهَا تُعَدُ الإِنْسَانُ الَّذِى يُعَمِّرُ الْحَيَاةِ وَيُرَقِيْهَا فِى كُلِّ زَمَانٍ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ، وِفْقُ ظُرُوْفِ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ. لَكِنْ ذَالِكَ كُلُّهُ إِنَّمَا يَكُوْنُ وِفْقًا لِلْقَوَاعِدِ الثَابِتَةِ فِى مَنْهِجِ اللهِ وَفِى إِطَارِهَا وُحُوْلِ مُحَوِّرَهَا.

Apabila pendidikan itu konsisten dalam menyampaikan tujuan-tujuan umumnya seperti membangun manusia yang beribadah atau ahli ibadah kepada Allah yang mampu untuk melaksanakan hak khilapah di muka bumi ini sesuai dengan ajaran Allah. Apabila pendidikan itu konsisten juga bisa menyampaikan kandungan-kandungan hukum pasti yang lurus dengan kebenaran-kebenaran, ukuran-ukuran dan nilai-nilai keTuhanan yang konsisten, sesungguhnya hal tersebut berkembang dalam rentan waktu setelah itu, sekiranya hal itu mengembalikan manusia yang memakmurkan kehidupan dan memajukan pada setiap waktu dan tempatnya yang sesuai dengan kondisi waktu dan tempatnya pula. Akan tetapi semua itu hanya berhubungan dengan kaidah-kaidah yang konsisten dalam ajaran Allah dan pada lingkungan sekitarnya.

· Kandungannya : dalam mendidik harus benar-benar konsisten dalam penyampaiannya untuk membangun manusia ta`at beribadah kepada Alloh Swt yang sesuai dengan tugasnya sebagai kholifah di muka bumi ini, pasti akan menemukan kebenaran-kebenaran yang hakiki.

القواعد

· إن حرف مصدرى يؤول هو والفعل الذى بعده بمصدر.

Huruf إن yang menduduki masdar di awalnya, yaitu fi`il yang setelahnya dengan masdar yang telah dijelaskan pada pembahasan yang terdahulu.

· قديكون المصدر المؤول من أن والفعل فاعلا أو ناءب فاعل أو مبتدأ أوخبرا أو مفعولا به أو مجرورا بحرف جر.

· Hamzah wajib difathahkan apabila mempunyai mahal `irob

1. Apabila إن berada pada fi`il dan fail

- Contoh : يعجبنى أن زيدا قاءم “saya heran bahwa zaid itu berdiri”

- Illatnya : karena didahului oleh jumlah fi`il dan fa`il

- `Irob : والجملة من إن وإسمها وخبرها فى محل رفع لأنه فاعل من يعجبنى

2. Apabila jumlah dari ناءب الفاعل

- Contoh : روي أن المرأ يقض با لأمل “Telah diriwayatkan sesungguhnya perkara akan dihukumi dengan perbuatannya.”

- `Irob : والجملة من إن وإسمها وخبرها فى محل رفع لأنه ناءب الفاعل من روي

3. Apabila jumlah dari مفعول به

- Contoh : عجبت أن عمرا دارس “Saya heran sesungguhnya Umar Belajar”

- `Irob : والجملة من إن وإسمها وخبرها فى محل النصب لأنه مفعول به من الفعل والفاعل

4. Apabila jumlah dari مبتدا

- Contoh : ومن أّياته إنك ترى الأرض “Dari sebagian ayat Al-Qur-an sesungguhnya kalian melihat bumi”

- `Irob : والجملة من إن وإسمها وخبرها فى محل رفع لأنه مبتداء مؤخر

- Kenapa khobar muqodam dan mubtada muakhor? Dikarenakan khobarnya dibuat dari jar dan majrur

5. Apabila jumlah dari jar dan majrur

- Contoh : رحمت لأن زيدا متعالم “Aku memuliakan sesungguhnya zaid seorang yang berilmu”

- `Irob : والجملة من إن وإسمها وخبرها فى محل جر مجرور ب "ل"

· وهناك حرف مصدرى اّخر وهو "ما" المصدرية.

· المصدر المؤول نوعان:

أ‌- المصدر المؤول من أن واسمها وخبرها نخو يسرنى أنك ينجح فى الإمتحان.

ب‌- المصدر المؤول من أن والفعل أو ما والفعل نحو أريد أن أقابلك، يسرنى ما عملت.

الباب الثالث

استنتاجات

المهمة الاولية للمربيا هو تثقيف طلابهم نحو الاتجاه الذي كان لا يعرف لمعرفة من خلال العملية التعليمية ، لا يمكن للدرجة من البشر ترتفع إلى رتبة أعلى. من خلال التعليم وسوف تتعلم عن الحقائق والقيم إلى ألوهية الى طريق الخلاص.

من خلال العلم والتعليم من خلال وسائل المراقبة وأفكار والإلهام وكذلك من خلال تجربة علمية تدريجيا ، بحيث تهدف إلى جعل التعليم مربيا على مستوى الخبرة أو المهارة أو جيدة. وفي تثقيف أيضا أن يكون حقا ثابتا في التسليم لتطوير البشر الطاعة في عبادة الله.

Tugas awal bagi seorang pendidik merupakan mendidik anak didiknya menuju arah yang tadinya tidak tahu menjadi tahu melalui proses pendidikan, maka derajat manusia bisa meningkat kepada yang lebih tinggi derajatnya. Dan Melalui pendidikan akan mengetahui tentang kebenaran dan nilai-nilai ke Tuhanan menuju jalan keselamatan.

Ilmu itu masuk melalui pendidikan melalui metode pengawasan, pemikiran dan ilham serta melalui ilmu pasti dengan percobaan secara bertahap, sehingga pendidikan bertujuan untuk menjadikan seorang pendidik kepada tingkat kemahiran atau keahlian atau kebaikan. Serta dalam mendidik juga harus benar-benar konsisten dalam penyampaiannya untuk membangun manusia ta`at beribadah kepada Alloh Swt.

الحمد لله ربّ العلمين



[1] Landasan Pendidikan Prof. Dr. A. Tafsir

0 komentar:

Poskan Komentar