Pages

Rabu, 02 Juni 2010

HUBUNGAN ANTAR AGAMA

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Siapa pun yang tidak banyak melakukan refleksi akan sesuatu mesti pernah bertanya apakah yang dimaksud dengan agama? Dia bisa saja menyimpulkan bahwa agama itu sulit untuk dikatakan. Kemudian dia berharap akan mencari perlindungan dalam kata-kata bahwa semua definisi adalah tidak memuaskan lalu ia menambahkan bahwa agama, khususnya adalah sesuatu yang seharusnya dialami bukan didefinisikan. Ini benar namun bagaimanapun juaga kata agama bermakna sesuatu dan ini baik untuk mengetahui apakah arti sesuatu itu.

Dalam makalah ini kami mencoba memaparkan sedikit tentang definisi agama dan lebih menonjolkan pada pembahasan utama kami ialah ayat-ayat Al-qur’an yang berkenaan dengan hubungan antar agama, yang mudah-mudahan dapat bermanfaat kami pembaca semua. Amin.

2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada pembahasan makalah ini ialah:

Pengertian Agama

Ayat-ayat yang berkenaan dengan hubungan antar agama

  1. Surah Al-kafiruun ayat 1-6

a. Lafal ayat

b. Tafsiran ayat (berdasarkan Tafsir Al-azhar)

  1. Surah Al-baqarah ayat 100-110

a. Lafal Ayat

b. Tafsiran ayat (berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir)

  1. Surah Al-ma’idah ayat 78-83

a. Lafal ayat

b. Tafsira ayat (berdasarkan Tafsir Nurul Qur’an)

  1. Surah Ali-imran ayat 69, 75, dan 128)

a. Lafal ayat

b. Tafsiran ayat (berdasarkan TAfsir Al-misbah)

  1. Surah An-nisa ayat 51-53

a. Lafal ayat

b. Tafsiran ayat (berdasarkan Tafsir Al-azhar)

BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Agama

Sebelum meranjak kepada pembahasan ayat-ayat yang berkenaaan dengan hubungan antar Agama, terlebih dahulu kita kilas balik apa itu pengertian agama.

Pada hakikatnya, semua manusia memiliki kesadaran tentang adanya kekuatan mutlak yanga ada dijagatraya ini, baik kekuatan itu menguasai diri ataupun menguasai jagatraya. Keasadaran untuk meyakini adanya kekuatan itu memang merupakan karunia Allah sebagai suatu fitrah yang tak dapat dielakkan darinya, sebagaimana firman Alllah swt:

30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[1168],

Adapun arti Agama, menurut sementara orang bahwa Agama berasal dari bahasa sangsekerta yakni a: tidak, gama: kacau. Jadi, tidak kacau, yang dimaksud adalah untuk mengatur kehidupan manusia supaya tidak kacau, aman, tentram dan teratur.

Sementara Agama, menurut Kyai Musa Al-mahfuzh yang meneliti masyarakat Bali mengatakan, bahwa Agama adalah upacara-upacara atau cara dalam hubngan antar manusia biasa dengan raja-raja atau pemerintah, misalnya cara mempersembahkan upeti, cara membayar pajak, cara mempertahankan Negara, dll.

Sedangkan kata ad-din berasal dari bahasa Arab, yang artinya: tanggungan, hutang, peraturan yang harus dilaksanakan, hutang yang harus dibayar dan dipertanggungjawabkan, atau juga aturan yang dibuat.

Kemudian melihat asal muasal Agama, maka kita dapat menggolongkan Agama menjadi dua macam Agama: Thabi’I dan Samawi. Agama Thabi’I adalah agama ciftaan manusia, hasil renungan budidaya manusia, ia diadakan berdsarkan fikiran, perasaan, dan khayalan, yang kemudian dijadikan suatu pegangan hidup sesuai dengan kehendaknya sendiri.

Adapun Agama Samawi bermakna “yang dating dari langit”, ia bukan ciftaan manusia dan tidak patut disebut Agama. Kalaupun terpaksa dikatakan Agama, maka itu hanyalah sekedar sebutan saja, bukan pengertian yang sebenarnya, bukan pula hakikat yang dituju.

Karena, yang disebut dengan Agama terbatas pada hasil budaya manusia saja, sama dengan ilmu lain hasil karya manusia, seperti ilmu social, ekonomi, budaya, dll. Hanya bedanya, agama mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Jadi, dalam tulisan tentang Samawi ini adalah sekedar untuk perbandingan antara ciftaan manusia dan ciftaan Allah swt. Tuhan semesta alam. (Abdul Rahman Madjie, Meluruskan Tauhid, 75)

Selanjutnya akan dipaparkan tentang ayat-ayat Al-qur’an yang berkenaan dengan hubungan antar Agama, yakni:

  1. Surah Al-kafirun ayat 1-6

a. Lafal Ayat

1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,

2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.

4. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,

5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.

6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."

b. Tafsiran Ayat (berdasarkan Tafsir Al-azhar)

Asbabun-nujul ayat diatas ialah: ketika pemuka Quraisy musyrikin menemui Nabi dengan bermaksud mencari “damai”. Yang mendatangi Nabi itu menurut riwayat Ibnu Ishaq dari Said bin Mina, ialah Al-walid bin Al-mughirah, Al-ash bin wail, Al-ashwad bin Al-muthalib dan Umaiyah bin Khalaf. Mereka kemukakan usul damai: “Ya Muhammad ! mari kita berdamai, kami bersedia menyembah apa yang engkau sembah, tetapi engkau pun hendaknya bersedia pula menyembah apa yang kami sembah, dan di dalam segala urusan di negeri kita ini, engkau turut serta bersama kami. Kalau seruan yang engkau bawa ini memang ada baiknya daripada apa yang ada pada kami, supaya turutlah kami merasakannya dengan engkau. Dan jika pegangan kami ini yang lebih benar daripada apa yang engkau serukan itu maka engkau pun telah bersama mersakannya dengan kami, sama mengambil bahagian padanya”. Inilah usulan yang mereka kemukakan. Maka tidak berapa lama turunlah ayat Al-kafiruuun tersebut.

Al-qurthubi meringkas tafsir seluruh ayat ini begini:

“Katakanlah olehmu wahai utusanku, kepada kafir-kafir itu, bahwasanya aku tidaklah mau diajak menyembah berhala-berhala yang kamu sembah dan puja itu, kamu pun rupanya tidaklah mau menyembah Allah saja sebagaimana yang aku lakukan dan serukan. Malahan kepada Allah saja sebagaimana yang aku lakukan dan serukan. Maka kalau kamu katakan bahwa kamu pun menyembah Allah jua, perkataan itu bohong, karena kamu adalah musyrik. Sedangkan Allah itu tidak dapat dipersyaratkan dengan yang lain. Dan ibadat kita pun berlainan. Aku tidak menyembah kepada tuhanku sebagaimana kamu menyembah berhala. Oleh sebab itu agama kita tidaklah dapat diperdamaikan atau dipersatukan, “bagi kamu agama kamu, bagiku adalah agamaku pula”. Tinggilah dinding yang membatas, dalamlah jurang di antara kita.

Surat ini memberi pedoman yang tegas bagi kita pengikut Nabi Muhammad saw bahwasanya akidah tidaklah dapat diperdamaikan.

2. Surah Al-baqarah ayat 100-110

a. lafal ayat

100. Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman.

101. Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (Kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah).

102. Dan mereka mengikuti apa[76] yang dibaca oleh syaitan-syaitan[77] pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (Tidak mengerjakan sihir), Hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat[78] di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami Hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya[79]. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka Telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka Mengetahui.

103. Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan Sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka Mengetahui.

104. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Raa'ina", tetapi Katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih[80].

105. Orang-orang kafir dari ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.

106. Ayat mana saja[81] yang kami nasakhkan, atau kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?

107. Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.

108. Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada jaman dahulu? dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, Maka sungguh orang itu Telah sesat dari jalan yang lurus.

109. Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya[82]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

110. Dan Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan.

b. Tafsiran Ayat (berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir)

Ayat ini turun ketika Nabi Muhammad SAW. Telah diutus kemudian mengingatkan yahudi tentang janji dan tugas yang diberikan Allah supaya mereka percaya kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga Allah menurnkan ayat ke 100 ini.

Karena itu, dalam ayat ke 101 Alllah menceritakan, bahwa ketika datang kepada mereka utusan Allah yang membenarkan ajaran yang ada dalam kitab mereka, maka sebagian ahli kitab membuang kitab Allah di belakang punggung mereka, seakan-akan tidak mengetahui apa isi kitab mereka itu. Lalu mereka berusaha mencelakakan Rasulallah saw. Dengan menggunakan sihir, yang mana usaha itu dipimpin oleh Labid bin Asam. Tetapi kemudian Allah memberitahukan kepada Nabi Muhammad saw dan menyelamatkannya, sebagaimana yang tersebut haditsnya dalam sahih bukhari muslim aisyah.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa Ashif adalah juru tulis Nabi Sulaiman. Ia mengetahui Ismul ‘Azham dan mencatat segala hal yang diperintahkan oleh Nabi Sulaiman. Kemudian Nabi Sulaiman mengubur catatan itu di bawah singgasananya. Ketiks Nabi Sulaiman wafat, catatan tersebut dikeluarkan oleh setan, lalu ditambahi pada setiap dua barisnya dengan ajaran sihir dan kekufuran. Catatan itu meeka sebarkan dengan mengatakan “inilah yang diamalkan oleh Nabi Sulaiman, sehingga orang yang mudah terpengaruh kemudian memaki dan mengkafirkan Nabi sulaiman. Tetapi para ulama tidak percaya pada isu dan provokasi itu, sehingga kemudian turun ayat 102.

Abu Abdullah Ar-razi mengatakan, bahwa sihir itu ada delapan macam, yaitu:

  1. Sihir yang dibuat uleh tukang sulap dan kaum kasydani (penyembahan tujuh bintang beredar).
  2. Sihir dengan hipnotis, kekuatan penglihatan, dan perasaan hati.
  3. Sihir dengan bantuan jin atau ruh. Danereka ini terbagi dua: ruh atau jin mukmin dan kafir.
  4. Sihir sulap dengan mempengaruhi pandangan mata, karena pandanganitu ada kalanya salah, pelaku sihir berusaha mempengaruhi penonton dengan pandangan atau suara, sehingga mereka tidak memperhatikan ulah si tukang sihir.
  5. Sihir yang dibuat dengan menggunakan alat-alat, sebagaimana yang dilakukan oleh ahli sihir fir’aun ketika mereka mengolesi tongkat dan tali-tali mereka dengan air raksa, sehingga terlihat seakan-akan bergerak.
  6. Sihir yang dilakukan dengan obat-obatan dan makanan agar kebal dan llain sebgainya.
  7. Sihir yang dilakukan dengan kata-kata atai mantra-mantra.
  8. Sihir dengan cara mempengaruhi orang yang lemah, sehigga ia terdorong untuk melakukan sesuatu, padahal itu hanya tipuan.

Dalam ayat 104, Allah melarang hamba-Nya yang beriman meniru oaring kafir dalam ucapan ataupun perbuatan mereka. Sebab, orang yahudi menggunakan kata-kata yang mempuyai dua arti, bak dan buruk untuk menyembunyikan maksud yang sebenarnya, yakni mengejek Nabi saw. Kaum yahudi juga bisa bergumam, sebagaimana jika mereka memberi salam kapada Nbi saw, mereka berkata “as-saamu alaika”, padahal as-saamu artinya “kebinasaan”. Karena itu jika menjawab salam mereka, nabi cukup berkata “wa’alaika”. Artinya “apa yang kamu katakan kembali padamu”. Kemudian Nabi saw bersabda “Hanya doa kami yang diterima oleh Allah, dan doa mereka terhadap kami tidak diterima”.

Adapun ayat 105 Allah menerangkan bahwa, orang kafir sangat benci dan memusuhi orang mukmin, baik ia kafir ahli kitab maupun musyrik pada umumnya.

Dalam ayat 106 Allah menutup dengan kalimat yang memperkenalkan bahwa, kekuasaan Allah itu mutlak. Dilanjutkan dengan ayat 107 “tidaklah kamu mengetahui bahwa kerajan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong”.

Ibnu Jarir menafsirkan ayat 107 sebagi berikut: “Tidaklah ku mengetahui hai Muhammad, bahwa akulah yang memiliki langit dan bumi dan menguasai sepenuhnya sehingga menghukum sekehendak-Ku, memerintah sekehendak-Ku, melarang sekehendak-Ku, mengubah hokum terhadap hamba-Ku sekehendak-Ku, menetapkan sekehendak-Ku terhadap hak milik-Ku sendiri.

Kemudian ayat selanjutnya menceritakan bahwa Allah melarang kaum mukminin bertanya kepada rasulallah tentang segala hal yang belum terjadi, karena mungkin saja akan di haramkan karena adanya pertanyaan itu, oleh karena itu Nabi SAW bersabda:

Yang artinya: “Sesungguhnya seorang muslim yang paling besar dosanya ialah yang menanyakan sesuatu yang (pada mulanya) tidak diharamkan, kemudian diharamkan karena pertanyaannya itu”.

Ayat selanjutnya Allah mengungkap kapada hamba-Nya yang beriman perasaan dan rencana orang-orang kafir ahli kitab yang ditimbulkan oleh rasa dengki dan iri hati terhadap karunia Allah yang diberikan kapda Nabi Muhammad saw dan kaum Mukminin. Allah menyuruh kaum mukminin supaya lapang dada dan dapat memaafkan mereka karena menunggu keputusan Allah. Dan supaya tetap menjaga tugasnya sendiri, yaitu tetap melakukan shalat, zakat, dan amal kebaikan yang lain.

Dan pada ayat 110 Allah memerintahkan kepada kaum mukminin supaya tetap rajin melaksanakan kewajibannya dan memperbanyak amal kebaikan sambil menungu perintah Allah untuk berperang menghadapi orang kafir dan musuh Islam dengan peringatan bahwa Allah tetap mengawasi segala amal perbuatan hamba-Nya

3. Surah Al-maidah ayat 78-83

a. Lafal Ayat

78. Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.

79. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.

80. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.

81. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.

82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami Ini orang Nasrani". yang demikian itu disebabkan Karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) Karena Sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.

83. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang Telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami Telah beriman, Maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.).

b. Tafsiran ayat (berdasarkan Tafsir Nurul Qur’an)

Ayat diatas mengatakan, telah dilaknati orang-orang kafir dari bani israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu malampaui batas. Laknat tersebut juga karena mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kemudian penyebab lainnya karena Bani Israil berteman dan mengambil pemimpin (mastership) orang-orang kafir.

Adapun asbabun-nujul dari ayat 82-83 ialah: ketika tahun ke-5 H setelah diangkatnya Nabi saw sebagai rasul, sekelompok kaum muslimin dibawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib berimigrasi daei mekkah ke Abesinia dan menjadi aman dari bahaya dari serangan orang-oarang kafir Mekkah, berkat dukungan Najasyi. Mereka juga aman dari bahaya agen-agen orang kafor disana. Kaum yahudi, sekalipun sekalipun mereka telah melihat mukjijat yang melimpah dan juga akhlak Nabi saw yang mulia, tetap tidak mau beriman kepada Islam. Mereka berpartisipasi dalam komplotan-komplotan melawan kaum Muslimin. Mereka melanggar janji-janji dan melakukan kejahatan, sementara beberapa orang uskup Kristern di Abesinia meneteskan air mata ketika mereka mendengar ayat-ayat surah Maryam dibacakan, dan menghormati orang-orang muslim yang ada disana.

Jadi, orang-orang Yahudi adalah musuh-musuh Islam yang paling bandel, dan permusuhan mereka terhadap kaum Muslim memiliki akar yang kuno dan mendalam.

Tetapi orang-orang Nasrani, meskipun secara salah percaya pada trinitas, yakni ajaran yang menyimpang, lebih bisa menerima kebenaran karena mereka memiliki pikiran yang lebih sehat. Mereka bukan orang-orang yang suka berkomplot, terutama kaum intelektual dan mubaligh diantara mereka.

4. Surah Ali-imran Ayat 69, 75, dan 128

a. Lafal Ayat

69. Segolongan dari ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.

Di antara ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi[206]. mereka Berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka Mengetahui.

128. Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu[227] atau Allah menerima Taubat mereka, atau mengazab mereka Karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.

b. Tafsir Ayat (berdasarkan Tafsir Al-misbah)

Pada ayat 69 dijelaskan bahwa ada segolongan ahli al-kitab, yakni pemimpin-pemimpin mereka yang mengelilingi kamu sebagaimana berkelilingnya pengikut terhadap yang diikutinya, tetapi dengan tujuan tipu daya. Tetapi itu mustahil mereka raih, sebagaimana yang diisyaratkan oleh penggunaan kata “lau” yang tidak digunakan kecuali untuk mengandaikan sesuatu yang mustahil terjadi. Kemustahilan itu tentu saja berkaitan dengan keteguhan hati Nabi Muhammad saw dan para sahabat beliau mempertahankan akidah dan mengamalkan tuntutan illahi. Mereka sebenarnya tidak menyesatkan akibat keinginan mereka itu, melainkan diri mereka sendiri, karena keinginan mereka tidak tercapai sedang meeka menduganya tercapai. Bahkan kesesatan itu, seandainya terjadi, pada hakikatnya telah menyesatkan diri mereka dan mereka senantiasa tidak sadar yakni tidak menyadari hakikat ini.

Kemudian ayat 75 Allah menjelaskan hubungan buruk Bani Israil dengan sesame manusia yang memberikan kepercayaan kepada mereka. Sebenarnya, telah mafhum bagi setip orang bahwa siapa yang baik hubungannya dengan Allah, memelihara Agamanya, tentulah hubungannya dengan sesama manusia akan baik pula, karena semua agama memerintahkan menjalin hubungan harmonos dengan semua pihak. Sebaliknya, siapa yang tidak memelihara agamanya, bahkan buruk hubungannya dengan tuhan, berbohong atas nama-Nya atau menyembunyikan apa yang diperntahkannya untuk disampaikan, pastilah hubungannya dengan manusia lebih buruk lagi.

Selanjutnya, Al-biqa’I menghubungakan ayat 128 dengan ayat sebelumnya dengan bertitik tolak dari peristiwa yang terjadi pada perang uhud, ketika itu paman Nabi saw Sayyidina Hamzah ibn Abdul Muthalib ra, terbunuh dan diperlakukan mayatnya secara tidak wajar. Perut beliau dibelah dan dikeluarkan hatinya untuk dipoting dan dikunyah oleh Hind Ibnst Uthbah ibn Rabiah sebagai balas dendam kepada paman nabi itu membunuh ayah Hind yang musyrik dalam perang Badae, setahun sebelum terjadinya perang Uhud ini.

Nabi saw yang sangat terpukul bermaksud membalas kekejaman itu. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi saw berdoa agar tokoh-tokoh musyrik dikutuk Allah swt. Imam muslim meriwyatkan bahwa dalam perang Uhud itu Nabi saw terluka, gigi beliau patah dan wajahbeliau berlumuran darah. Ketika itu beliau bekomentar: “bagaimana mungkin suatu kaum akan meraih kebahagiaan, sedang mereka melumuri wajah Nabi meraka dengan darah”. Meluruskan sikap Nabi itu ayat 128 ini turunmengingatkan bahwa: tak ada sedikitpun campur tangan mu dalam urusan mereka itu, apakah kamu bermaksud membalas dendam atau menjatuhkan sangsi dan kekalahan kepada mereka, apakah Allah mengampuni atau menyiksa mereka. Kalau Allah menghendaki, dia penuh harapanmu, atau kalau dia menghendaki Allah mengilhamkan keapda mereka untuk sehingga mereka bertaubat atau bias juga Allah mengazab mereka. Semua itu kembali kepada Allah.

Setelah turunnya ayat ini, Nabi tidak sekalipun mengutuk seseorang, tidak pula mendoakan yang buruk, ketika ada yang mengusulkan beliau untuk mendoakan yang buruk beliau menjawab: “saya tidak diutus untuk menjadi seorang pengutuk, tetapi saya diutus mengajak dan membawa rahmat. Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahi”.

Ayat ini juga menegaskan bahwa kemenangan atau kekalahan dimanapun terjadinya, tidak mempunyai kaitan dengan pribadimu, wahai Muhammad. Engkau tak harus dipuji jika mendapat kemenangan dan juga dicela karena kekalahan. Tugasmu hanya menyampaikan dan berusaha, beriman dan kufur, berhasil atau gagal itu kehendak Allah swt.

Ayat ini ditutup dengan kedua sifat pengampun dan maha penyayang sebagai isyarat kepada mereka yang diperlakukan tidak wajar agar memberi ampun, pemaaf, dan kasih saying kepada orang yang telah melakukan kesalahan terhadapnya, termasuk dalam hal ini korban atau keluarga para syuhada Perang Uhud

5. Surah An-nisa ayat 51-53

a. Lafal Ayat


51. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka percaya kepada jibt dan thaghut[309], dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.

52. Mereka Itulah orang yang dikutuki Allah. barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.

53. Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan (kekuasaan) ? kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia[310].

[309] Jibt dan thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain Allah s.w.t.

[310] Maksudnya: orang-orang yang tidak dapat memberikan kebaikan kepada manusia atau masyarakatnya, tidak selayaknya ikut memegang jabatan dalam pemerintahan.

b. Tafsir Ayat (berdasarkan Tafsir Al-azhar)

Ayat diatas menerangkan tentang ahli kitab yang mempercayai jibti dan thoguth. Contoh dari jibti misalkan: Terdengar Elang berkelit tengah hari, lalu orang berkata “ada orang besar akan mati” atau terdengar ayam berkokok di waktu senja, maka orang berkata “anak gadis mengandung dengan tidak jelas siapa suaminya”. Atau barang seumpama keris, dikatakan bahwa keris itu betuah. Atau kepercayaan manusia jadi harimau dll. Pada orang yang masih jauh dari peadaban, jibti ini sangat berpengaruh. Seumpama kepercayaan kalau ada orang sakit, bahwa dia itu sakit karena ditegur setan ini pun termasuk jibti. Atau Animisme, yaitu bahwa roh nenek moyang berpengaruh terhadap orang yamg masih hidup, sebab itu diadakan pemujaan. Atau Dianamisme, yaitu bahwa barang-barang yang ada ini, entah pohon beringin, batu besar, puncak gunung, keris dll, ada nyawa-nya. Atau di zaman kita ini ramalan bintang yang di muat di surat kabar, tentang melihat nasib, yaitu nasib seseorang karena melihat tanggal lahirnya, itu pun jibti.

Dan dikiaskanlah hal yang lain-lain, yaitu kepercayaan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan dan di uji kebenarannya menurut akal yang sehat. Itulah dia jibti.

Thagut berumpun dari kata thagiyah kita artikan kesewenang-wenangan, melampaui batas, terkhusus kepada manusia yang telah lupa atau sengaja keluar dari batasnya sebagai insane, lalu mengambil hak tuhan. Atau manusia itu dianggap Tuhan oleh yang mempercayainya. Maka segala pemujaan kepada manusia sampai mendudukannya sebagai Tuhan, meskipun tidak di ucapkan olah mulut, tetapi bertemu dengan perbuatan, termasuklah itu dalam arti Thagut. Ada ulama besar yang disegani, akhirnya dipandang keramat, lama-lama diikuti, sehingga segal fatwanya wajib dipandang suci seperti sabda Tuhan saja. Maka para ulama itu menjadi Thogut bagi yang memepercayainya.

Maka dalam ayat ini dijelaskanlah betapa sesatnya orang-orang yang telah diberi sebagian dari kitab itu. Kepercayaan Tauhid yang asli telah hilang, di dalam lipatan jibti (kesesatan) dan Thogut (menuhankan makhluk). Kalau ditanyakan, engkau pertuhankan si pulan? Niscaya mereka akan menjawab juga: “Tuhan kami Allah” tetapi kalau ditanya lagi, mengapa perkataan si pulan, fatwa si pulan, tafsiran si pulan kamu terima begirtu saja dengan tidak mempergunakan akal, padahal kadang-kadang berjauhan sangat dengan firman Allah yang disampaikan Nabi kamu? Mereka tidak dapat memberikan jawaban yang tepat.

Kemudian dikatakan lagi lagi dalam sambungan ayat: “dan mereka berkata dari hal rang-orang kafir: mereka itu lebih betul jalannya darpada orang-orang yang beriman (51).

Dalam sebuah riwayat, bahwasanya beberapa pemuka yang terkenal Ka’ab bin Asyraf, datang ke Mekkah menemui pemuka-pemuka quraisy, sampai bertemu dan bertukar fikiran dengan Abu Sufyan. Kedatangannya ke Mekkah itu ialah menambah hasutan dan mempengaruhi kaum Musyrikin terus jangan bosan dan jangan kendur memerangi Nabi Muhammad saw dan sahabat-sahabatnya Muhajirin dan Anshar di Madinah itu dan Ka’ab menyatakan bahwa dia dan kaumnya bersedia membantu mereka. Maka dalam pertukaran fikiran secara terbuka itu yang pendiriannya lebih benar dan pegangannya lebih teguh. Abu sufyan berkata: “kami menjungjung tinggi pusaka nenek moyang, kami memberi makan dan minum orang yang naik haji tiap tahun, kami menghormati berhala yang telah turun-temurun disembah nenek moyang. Sedang Muhammad itu menantang segala pekerjaan kami yang baik itu dan melanggar segala adapt pusaka nenek moyang, sehingga dia keluar dari lingkungan masyarakat sampai berpindah ke tempat lain

Ka’ab bin Asyaraf sebagai seorang yang terkemuka dan mengerti isi taurat, dengan tidak sedikit juga menghargai suara bathinnya sendiri menjawab kepada Abu sufyan: “Pendirian kalianlah yang benar, agam yang kalian pegang itulah yang benar, dan jalan yang kalian tempuh itulah yang paling benar daripada jalan yang kalian tempuh itulah yang lebih benar daripada jalan yang ditempuh Muhammad!”

Sejak zaman Jahiliyah, orang-orang Arab penyembah berhala itu selalu mengakui bahwa orang keturunan kitab itu, baik yahudi ataupun nasrani, lebih ahli dari mereka dan pantas tempat bertanya dalam soal-soal agama. Sekarang Ka’ab bin Asyaraf karena ”politik” guna menarik kaum musyrikin memerangi Islam, telah berani memberikan jawaban yang bertentangan dengan suara hati kecilnya sendiri yaitu bahwa musyrik lebih dari Islam. Inilah maksud dari ujung ayat dari perkataan Ka’ab bahwa mereka yang musyrik itu lebih betul jalannya daripada orang-orang yang beriman. Padahal, kalau Ka’ab menuruti suara hati kecilnya dan benar-benar mencintai kebenaran meskipun orang yahudi belum menyetujui Islam, namun pokok kepercayaan Bani israil dengan kepercayaan yang dibawa Nabi Muhammad saw adalah sama, yaitu sama-sama menentang menyembah berhala. Di dalam hokum sepuluh sebagai dasar utama dari taurat Allah telah bersabda: “jangan dibuatkan aku patung!” dan sebelum nabi Muhammad saw dating, orang yahudi selalu menghina orang Arab karena menyembah berhala. Sekarang dia puji penyembahan berhala itu karena benci kepada Muhammad saw.

Kemudian di dalam ayat ini kita bertemu tiga kesalahan umat keturunan kitab, karena memegang hanya sebagian dari isi kitab:

Pertama, mencampu-aduk kebenaran agama dengan kesesatan, atau jibti. Sehingga dibangsakan kepada agama, hal-hal yang sama sekali ditolak oleh agama, sehingga timbul bid’ah, khurafat, takhayul, dongeng-dongeng yang menunjukan kebodohan atau menipu orang bodoh.

Kedua, menuhankan manusia, sampai memberikan kepadanya pemujaan yang mendekati pemujaan kepada Tuhan. Begitu mereka perbuat kepala ulama-ulama dan pimpinan mereka.

Ketiga, berani memutar balik kebenaran karena mengharapkan kemenangan pengaruh dan politik.

Ketika ditanyakan orang dapatkah disatukan ajaran Islam dengan komunis? Ada pemuka Islam yang menjawab: “dapat” dan ketika ditanyakan orang pula kepada satu golongan umat Islam: bagaimana hukumnya kalau ada orang Islam sendiri yang menentang Nasakom (percobaan Soekarno menyatukan Nasional, Agama, dengan Komunis).

Apakah sebabnya maka mereka sampai hati berbuat demikian? Jawabnya mudah saja. Telah padam cahaya hati sanubarinya yang bersih oleh hawa nafsu akan kekuasaan.

Demikianlah peringatan Tuhan tentang bahaya sikap orang keturunan kitab ini, yang jadi sebabnya ialah sikap Ka’ab bin Asyraf dan kawan-kawannya.


BAB III

SIMPULAN

Pada pembahasan diatas dapat kita ambil kesimpulan yang berkenaan dengan hubungan antar agama diantaranya:

Pertama, kita sebagai umat Islam harus senantiasa menghormati dan saling menolong terhadap non-muslim, asal jangan tolong menolong dalam hal akidah.

Kedua, , bahwa Islam ditegakkan untuk rahmat seluruh alam sebagaimana ucapan Nabi Muhammad saw “saya tidak diutus untuk menjadi pengutuk, tetapi saya diutus mengajak dan membawa rahmat”.

Ketiga, bahwa Ahli-kitab senantiasa selalu ingin menyesatkan kaum muslimin dengan tipu dayanya. Seperti dalam surah Ali-imran ayat 69 yang menyatakan bahwa Nabi Ibrahim adalah orang kafir.

Keempat, Ahli-kitab buruk dalam berhubungan dengan sesama manusia, yakni tidak bisa menjaga amanat. Karena mereka menganggap orang-orang arab adalah orang yang ummi, dan menganggap tidak berdosa kalau bersikap yang tidak baik.

Kelima, oranag yang beriman oleh Allah dilarang keras untuk meniru orang kafir dalam ucapan dan perbuatan mereka seperti dalam surah Al-baqarah ayat 104.

0 komentar:

Poskan Komentar