Pages

Rabu, 02 Juni 2010

Surat Al-Baqarah, Ayat:224-225

Surat Al-Baqarah, Ayat:224-225

Ÿwur* (#qè=yèøgrB ©!$# Zp|Êóãã öNà6ÏY»yJ÷ƒX{ cr& (#rŽy9s? (#qà)­Gs?ur (#qßsÎ=óÁè?ur šú÷üt/ Ĩ$¨Y9$# 3 ª!$#ur ììÏÿxœ ÒOŠÎ=tæ ÇËËÍÈ žw ãNä.äÏ{#xsムª!$# Èqøó¯=9$$Î/ þÎû öNä3ÏY»yJ÷ƒr& `Å3»s9ur Nä.äÏ{#xsム$oÿÏ3 ôMt6|¡x. öNä3ç/qè=è% 3 ª!$#ur îqàÿxî ×LìÎ=ym ÇËËÎÈ

224. "Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan Mengadakan ishlah di antara manusia[139]. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui".

225. "Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun"[140].

[139] Maksudnya: melarang bersumpah dengan mempergunakan nama Allah untuk tidak mengerjakan yang baik, seperti: demi Allah, saya tidak akan membantu anak yatim. tetapi apabila sumpah itu telah terucapkan, haruslah dilanggar dengan membayar kafarat.

[140] Halim berarti penyantun, tidak segera menyiksa orang yang berbuat dosa.

Tafsir Al-Azhar

Di dalam ayat yang tengah kita tafsirkan ini kita bertemu dengan kalimat urdhatun, yang mempunyai dua arti. Pertama penghalang, kedua sasaran. Menurut arti yang pertama ialah, janganlah kamu jadikan Allah menjadi penghalang bagi sumpah kamu, yang menghalangi kamu nernuat kebajikan dan bertaqwa dan mendamaikan di antara manusia.

Sebagaimana kita maklumi, sumpah ialah suatu perjanjian yang diteguhkan dengan memakai nama Allah! Kitapun bisa bersumpah hendak menghentikan suatu pekerjaan ataupun mengerjakannya. Ada orang yang dengan memakai nama Allah, berjanji tidak akan menolong si anu. Sebagaimana pernah terjadi pada Sayyidina Abu Bakar sendiri; beliau pernah bersumpah: "Demi Allah", aku tidak lagi akan memberikan bantuan kepada si Misthah. Karena si Misthah ini yang hidupnya sejak pindah dari Makkah ke Madinah, adalah dibantu oleh Abu Bakar, seketika orang-orang munafik membuat fitnah bahwa Siti Aisyah berlaku serong dengan seorang pemuda bernama Shafwan, maka si Misthah inipun turut menyebar-nyebarkan fitnah itu pula. Maka kemudian setelah turun ayat Allah membersihkan Aisyah dari noda buruk itu, Abu Bakar tidak lagi akan memberikan bantuannya lagi kepada si Misthah, patut dia berlaku demikian terhadap si Misthah yang selama ini telah mendapat bantuan daripadanya. Lantaran teguran ayat itu, Abu Bakar telah membayar Kaffarah sumpahnya yang terlanjur itu.

Dalam hal ini Abu Bakar telah menjadikan Nama Allah menjadi penghalang atas maksudnya hendak berbuat baik, membantu orang lain. Oleh sebab itu janganlah orang sampai mengambil nama Allah menjadi penghalang baginya berbuat baik, atau untuk menegakkan takwa. Karena segala kebajikan yang kita kerjakan, tujuan keta ialah supaya dia menjadi jalan untuk memperkokoh ketakwaan kita kepada Allah.

Arti kedua dari urdhatun, ialah sasaran, atau alamat pembidikan ketika belajar memanah atau menembak, sehingga seluruh mata dan perhatian ditujukan kesana. Maka Allah telah dijadikan sasaran sumpah, artinya ialah mempermudah-mudah kebesaran Tuhan, untuk memperkuat suatu sumpah. Inipun perbuatan yang tidak layak. Ibnu Abass menafsirkan, maksud ayat ialah supaya kamu jangan mengambil nama Allah menjadi dasar persumpahan tidak akan mengerjakan yang baik. Yaitu seorang laki-laki bersumpah tidak akan bertegur sapa dengan salah seorang karib kerabatnya, atau tidak hendak memberikan sedekah, atau bersumpah tidak akan mendamaikan diantara dua orang yang berselisih, dan semuanya dikuatkan dengan sumpah berdasarkan pada tafsir-tafsir ini, maka kita artikanlah bunyi ayat 224 sebagai tersebut di atas: " janganlah kamu jadikan Allah menjadi penghalang bagi sumpah kamu, yang menghalangi kamu nernuat kebajikan dan bertaqwa dan mendamaikan di antara manusia" (pangkal ayat 224).

Menurut suatu riwayat dari Ibnu Abi Hatim, yang diterima dari ‘Atha’, bahwa seorang laki-laki dating kepada Aisyah r.a. Orang itu berkata:” Saya bernadzar bahwa saya tidak akan bercakap-cakap dengan si pulan. Kalau aku bercakap-cakap dengan dia, maka sekalian budak-budakku akan merdeka, dan segala harta-hartaku akan akan aku jadikan beban buat menutupi (aku belikan pakaian) bagi ka’bah.” Mendengar nadzar yang ganjil itu, Aisyah berkata padanya:”Janganlah engkau lahjutkan sumpah atau nadzar demikian. Janganlah engkau jadikan yang demikian akan sebab merdeka budak-budakmu dan dan jadikan ahrta bendasmu akan jadi pakaian ka’bah. Sebab cara demikian telah telah dilarang Allah dengan ayat. Dan janganlah kamu jadaikan Allah jadi penghalang dari sumpahmu, sebab itru hendaklah segera engkau bayar kaffarah dari sumpahmu itu”.

Nyata sekarang bahwa ayat ini melarang keras orang bersumpah dengan nama Allah buat menghambat dirinya dari satu pekerjaan yang baik, dan banyaklah missal-misal yang dapat dikemukakan untuk itu. Misalnya orang berkata:”Demi Allah, saya tidak akan ke Makkah selama si anu masih bercokol disana. Atau demi Allah biar si anu dan si pulan itu berkelahi terus-menerus, namun aku tidak akan mendamaikan mereka.” Maka sumpah-sumpah tersebut yang menjadikan Alllah jadi penghalang dari suatu perbuatan yang baik, atau menjadikan Allah menjadi sasaran sumpah, amatlah dicela oeh Tuhan, dan di ujung ayat Tuhan bersabda: “Dan Allah adalah Maha Mendengar, lagi Mengeetahui” (Ujung ayat 224).

Allah mendengar perkataan-perkataan yang terlanjur itu, sebab Namanya Allah telah dijadikan penghalang atau sasaran, dan Allah pun mengetahui, bahwa perbuatan dan percakapan demikian adalah timbul dari kekurangan adab kepada Allah yang tiada pantas bagi seorang yangberiman. Maka bersabda Rasulullah s.a.w. berkenaan dengan sumpah-sumpah semacam itu:

“Barangsiapa yang bersumpah atas suatu persumpahan, lalu dilihatnya ada hal yang lebih baik dari itu, hendaklah dia lakukan pekerjaan yang lebih baik itu, dan hendaklah dia bayar kaffarah sumpahnya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

Dikuatkan lagi oleh sabda-sabda abeliau yang lain, di antaranya ialah sabdanya:

“Tidak ada nadzar dan tidak ada supah pada perkara yang tidak dikuasai oleh anak adam, dan tidak pula dalam hal yang memutuskan silaturahmi.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud,Ibnu Majah dan Imam Ahmad).

Missal perkara yang tidak dapat dikuasai oleh anak adam ialah bersumpah akan berangkat meninggalkan kota kediaman dan berpindah ke negeri lain besok juga! Sebab hari esok bukanlah kepastian manusia, melainkan ketentuan Allah, melainkan katakana sajal;ah “Insya Allah”.[1]

Atau bersumpah dalam hal maksiat. Misalnya: Demi Allah, sebelum aku berzina dengan perempuan itu, belumlah aku akan bertaubat.

Missal yang ketiga bersumpah memutruskan silaturahmi ialah “Demi Allah”, aku tidak akan bertegur-sapa dengan si anu, dan lain sebagainya. Segala sumpah yang demikian ini adsalah sangan tidak disetujui oleh syara’, namun orang yang terlanjur bersumpah jahat ini, tetap haram mengerjakan pekerjaan yang tercela itu, dan tetap wajib membayar kaffarah sumpahnya. Dan disini kita mendapat pelajaran bahwa nama Allah tidak boleh kitajadikan sasaran untuk bersumpah.

Menurut riwayat daripada an-Nasa’I dan Ibnu Majah, bahwa seorang sahabat Rasulullah s.a.w. bernama Malik al-Jusammy mengatakan kepada beliau, bahwa pada suatu hari dating kepadanya anak saudara ayahnya (sepupunya). Maka diapun bersumpah tidak akan memberikan apa-apa kepada saudara sepupunya itu dan tidak pula hendak menghubungkan silaturahmi lagi dengan dia. Lalu berkata Rasulullah kepadanya: “Hendaklah engkau segera kaffarah sumpahmu!!”

Kemudian datanglah lanjutan peraturan Allah lagi berkenaan dengan sumpah:

“Tidaklah diperhitungkan oleh Allah apa yang sia-sia pada sumpah kamu”(pangkal ayat 225).

Di sisni terdapat kata laghwi, yang di dalam terjemahannya kita artikan sia-sia. Menurut arti yang biasa laghwi artinya ialah kata-kata terlanjur aau kata-kata yamg tidak diperhitungkan masak-masak. Bercakap asal bercakap saja. Maka dalam hal ini ahli-ahli tafsir yang mu’tabar telah mengeluarkan berbagai pendapat. Menurut ibnu Abbas dan Aisyah dan sebagian ahli-ahli tafsir, arti laghwi disini ialah kat terbiasa yang diucapkan orang sekedar menguatkan saja, misalnya Tidak! Demi Allah! Atau memang begitu halnya! Demi Allah. Di dalam percakapan sehari-hari, dengan tidak maksud hati bersumpah.

Menurut al-Maruzi, begitulah arti laghwi pada sumpah itu, yang telah sama pendapat-pendapat ulama-Ulama atasnya. Menurut Abu Hurairah sumpah laghwi ialah bersumpah untuk memastikan bahwa yang akan kejadian ini begini. Tetapi kemudian setelah sampai waktunya, maka yang kejadian itu berbeda dengan yang telah dipastikannya itu. Itupun termasuk sumpah laghwi. Menurut riwaya yang lain dari Ibnu Abbas, sumpah laghwi ialah sumpah seseorang seketika dia sangat marah. Pendapatnya itu disnut juga oleh Thawus dan Makhul. Menurut satu riwayat dari Ibny Mali, sumpah laghwi ialah sumpah atas akan berbuat maksiat. Pendapat inipun diterima dari Said bin Musayyab, dan Abu Bakar bin Abdurahman dan Abdullah bin Zubair dari saudaranya Urwah. Seumpama kalau orang bersumpah bahwa dia akan meminum khamar, atau bersumpah hendak memutuskan silaturahmi.

Menurut Zaid bin Aslam, sumpah laghwi ialah sumpah seseorang atas dirinya sendiri, seumpama dia berkata:”Biarlah Allah membutakan mataku,” atau “biarlah Allah melicin-tandaskan hartaku”, atau seorang berkata:”Biarlah aku jadi Yahudi, biar aku jadi Musyrik”, namun aku tidak akan mengerjakan demikian, atau tidak pernah berbuat begitu. Dari segala macam penafsiran ini dapatlah kita simpulkan bahwasannya orang yang sedang sangat marah dan kalaf, sehingga dia bersumpah memakai nama Allah, maka sumpahnya itu tidaklah dimakan hokum. Misalnya kata orang yang sanyat marah, kepada ana kandungnya:”Demi Allah mulai hari ini engkau tidak akan saya beri belanja lagi!” Sumpah waktu marah itu dipandang laghwi sama juga dengan orang yang menjatuhkan talak kepada istrinya di waktu dia sedang sangat marah.

Di ujung ayat Tuhan bersabda: “Sedang Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ujung ayat 225).

Dengan sabda Tuhan bahwa sumpah yang laghwi itu bias diampuni, sebab Tuhan Maha Pengampun dan Penyayang, sudah mendapat kesan yang halus sekali,bahwa sumpah yang laghhwi itupun tercela juga. Kalau dapat kita herndaklah mengelakka diri daripada berbuat demikian, meskipun tidak akan membayar kaffarah. Di dala surah al-Mu’minun, surat 23 ayat 3 diterangkan setengah dari sebab kemenangan yang akan dicapai oleh oreang yang beriman, ialah apabila mereka suka berpaling dari segala perbuatan laghwi, yamg tidak ada faedahnya yang sia-sia. Memang sudah menjadi kebiasaan setengah orang, terutama bangsa yang emakai bahasa arab, menguatkan kata dengan Wallahi atau tallahi dan billahi, buikan bermaksud sumpah. Misalnya orang bertanya apa kabar si anu, dia enjawab: khoir Wallahi! (Dia dalam baik, Demi Allah!).

Atau dia berkata karena telah lelah: Ana ta’ban, Wallahi (Saya amat lelah, Wallahi). Dan orang bertanya: Apa betul ada pencuri mencoba masuk rumah saudara semalam? Dia menjawab: Ee, Wallah! (Benar, Demi Allah). Orang Islam Indonesia yang tidak terbiasa atau tidak mempunyai kalimat Wallah untuk menguatkan kata dan hanya untuk bersumpah saja, apabila mulai bergaul dengan orang arab, kerapkali merasa dan mempermudah-mudah sumpah. Padahal bagi mereka hal itu bukan sengaja sumpah, hanya penguat kata saja. Rupanya karena ini telah kebiasaan lama, dan bukan sengaja bersumpah, tidaklah dia ditarik oleh Allah. Sumpah yang ditarik dan diperhituingkan, ialah sumpah yang dating dari hati atau sebagai disebut dalam ayat “diusahakan oleh hati,” sumpah sebenar sumpah yang wajibdikuatkan dengan nama Allah, sumpah yang demikianlah yang dikenakan kaffarah kalau hendak dibatalkan. Sebagai tersebut dalam surah al-Maidah:

Untuk penafsiran kedua ayat ini baik ayat 224 yang melarang kita jadikan Allah jadi sasaran sumpah, atau penghalang berbuat baik, dan ayat 225 yang memberi ampun orang yang terlanjur kata bersumpah yang bukan dari hati, baiklah kita jadikan pegangan perkataasn Imam Syafi’i. beliau berkata:”Aku tidak pernah memakai sumpah, baik pada yang benar ataupun pada yang dusta.”

Kalau kiat tiru pula kebiasaan orang-orang Arab, yang sampai diberi maaf oleh al-Qur’an karena tersendat-sendat mulutnya, sebentar-sebentar menyebut Wallah, kita takut nama Tuhan akan diperingan-ringan saja, sehingga turun mutunya karena kealapaan kita. Hendaknya janganlah sampai kita menyebut-nyebut nama Allah dan bersumpah-sumpah dalam hal yang kecil-kecilpun, kadang-kadang hanya dalam perkara menguatkan suatu nperkataan kecil sehingga lama-lama kepercayaan orang kepada kitapun menjadi luntur, karena sudah murah-murah saja bersumpah, yang kian lama kian dapat diketahui orang bahwa kita adalah seorang pembohong. Orang mudah bersumpah seperti inilah yang dicela oleh Tuhan, sebagai petanda dari orang kafir, sebagai tersebut di dalam surat al-Qalam (Surat 68, ayat 10). “dan janganlah kamu turuti tiap-tiap oran yang suka bersumpah yang rendah hina.”

Surat Ali Imron, Ayat: 26-27

@è%* ¢Oßg¯=9$# y7Î=»tB Å7ù=ßJø9$# ÎA÷sè? šù=ßJø9$# `tB âä!$t±n@ äíÍ\s?ur šù=ßJø9$# `£JÏB âä!$t±n@ Ïèè?ur `tB âä!$t±n@ AÉè?ur `tB âä!$t±n@ ( x8ÏuŠÎ/ çŽöyø9$# ( y7¨RÎ) 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏs% ÇËÏÈ ßkÏ9qè? Ÿ@øŠ©9$# Îû Í$yg¨Y9$# ßkÏ9qè?ur u$yg¨Y9$# Îû È@øŠ©9$# ( ßl̍÷è?ur ¢yÛø9$# šÆÏB ÏMÍhyJø9$# ßl̍÷è?ur |MÍhyJø9$# z`ÏB ÇcyÛø9$# ( ä-ãös?ur `tB âä!$t±n@ ÎŽötóÎ/ 5>$|¡Ïm ÇËÐÈ

26. "Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu".

27. "Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup[191]. dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)".

[191] Sebagian mufassirin memberi misal untuk ayat ini dengan mengeluarkan anak ayam dari telur, dan telur dari ayam. dan dapat juga diartikan bahwa pergiliran kekuasaan diantara bangsa-bangsa dan timbul tenggelamnya sesuatu umat adalah menurut hukum Allah.

Tafsir Al-Azhar

Naiknya cahaya nubuwwat yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad saw telah menimbulkan in hati dalam kalangan Yahudi (Bani Israil). Sebab selama ini beratus-ratus tahun lamanya, Nubuwwat dan Risalat hanya pada Bani Israil, tidak pada yang lain. Adapun bangsa Arab di Hejaz sendiri selama ini tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang. Mereka duduk sama rendah dan tegak sama tinggi dengan kebanggaan kabilah masing-masing Di sebelah Utara ada raja-raja dan keturunan Bani Mundzir yang dipandang sebagai orang yang bcrbangsa, padahal kekuasaan mereka memerintah adalah di bawah naungan kerajaan Persia dan yang lain di bawah perlindungan kerajaan Romawi. Sekarang timbul saja satu kekuasaan baru di Tanah Arab. Nabi Muhammad saw diutus Tuhan menjadi Rasul. Pokoknya ialah mengajarkan kepcrcayaan kepada Tuhan, tetapi hasilnya ialah sesuatu kekuasaan, suatu pemerintahan yang mempunyai wibawa dan kemegahan, membuat perjanjian perang atau damai, mcnghukum yang bersalah, sampai juga berhak menghukum bunuh, ini sudah menjadi kenyataan. Tetapi ada di antara Bani Israil itu yang tidak mau mengakui kenyataan. Demikian pula orang-orang Arab yang memandang diri mereka bangsawan. Apatah lagi dua kerajaan besar yang berkuasa pada ketika itu, yaitu Kerajaan Romawi Timur dan Kerajaan Persia.

Nabi kita s.a.w. berjuang bukanlah untuk mencapai suatu kekuasaan, atau untuk mencapai jabatan tertinggi sebagai kepala negara. Sekali-kali dia tidak mcngingat itu. Yang ditujunya ialah kebesaran agama, tegaknya syiar Allah dan keluar manusia dari gelap-gulita syirik kepada terang-benderang iman. Tetapi meskipun beliau tidak menuju kekuasaan, namun kekuasaan pun tercapai. Akhirnya kekuasaan bukanlah tujuan, tetapi menjadi alat buat melancarkan agama. Demikianlah telah ditakdirkan oleh Allah.

Kalau kita ukur secara sekarang; beliau datang membawa satu ideologi, yaitu Islam. Kemudian dengan sendirinya terbentuk sam kekuasaan, di Madinah. Bukan beliau terlebih dahulu mengejar suatu kekuasaan, lalu kemudian disusun ideologinya.

Tentu saja kekuasaan yang baru tumbuh ini tidak disenangi oleh musuh-musuhnya. Bani Israil merasa di kalangan mereka sajalah ada Nabi, di kalangan lain tidak ada. Kalau ada hanya Nabi palsu. Kaisar Persia pernah memerintahkan orang pergi menangkap Muhammad yang dipandangnya mengacau di Tanah Arab itu, hidup atau mati!

Dalam suasana demikian Tuhan rnenyuruh ucapkan doa ini: “Katakanlah Ya Tuhan yang memiliki segala kekuasaan.” (pangkal ayat 26). Seluruh kekuasaan di langit dan di bumi, atau segala makhluk yang hidup atau yang beku, atas laut dan darat, gunung dan lembah, atas alam semesta. “Engkau berikan kekuasaan kepada barang siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dan barangsiapa yang Engkau kehendaki” Walaupun bagaimana besar kekuasaan seorang raja diberi oleh Allah, mudah saja bagiNya mencabut. Berapa kita lihat raja-raja, sultan-sultan, yang dahulu nenek-moyangnya berkuasa besar, sampai pada anak atau cucu; habis kekuasaan tinggallah gelar, habis tanah tinggallah istanya. Berapa pula kita lihat orang yang tadinya bukan asal raja, naik memimpin bangsanya, mencapai puncak kekuasaan tertinggi, padahal dianya hanya bekas budak raja dan raja yang berkuasa tadi. Sebab seluruh manusia itu hanyalah dan saw keturunan, sama darahnya dan sama dagingnya, sama asal dan tanah kemudian menjadi mani, kemudian terbentuk jadi orang, kemudian kembali jadi tanah lagi. Tidak ada darah bangsawan di dunia ini yang keturunannya bukan dan Adam, atau bukan dan asal-usul manusia. Timbulnya kekuasaan hanyalah pinjaman sementara dan Allah. “Dan Engkau muliakan barangsiapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan barangsiapa yang Engkau kehendaki’.” Kemuliaan bisa dianugerahkan Tuhan walaupun kepada orang yang tidak berpangkat tinggi, dan kehinaan bisa pula dijatuhkan Tuhan, walaupun kepada orang yang disebut berpangkat. Sebab pangkat dan kemuliaan yang diberikan Allah lain coraknya dari pada istilah-istilah yang diperbuat manusia. Izzah artinya kemuliaan dan dzillah artinya kehinaan. Izzah bisa juga diartikan gengsi, prestise atau wibawa. Sinarnya tidak akan dapat ditutup walaupun oleh kemiskinan! Dzillah bisa juga diartikan jiwa rendah, yang tidak dapat disembunyikan walaupun dibalut dengan emas. “Di tangan Engkau segala kebaikan.” Yaitu Engkaulah sumber tenaga dan segala yang baik di alam ini dipancarkanNya kepada sekalian makhlukNya, sehingga semuanya mendapat menurut kadar ba hagian masing-masing. “Sesungguhnya Engkau nafas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Kuasa.” (ujung ayat 26).

Maka di dalam rangka kekuasaan Allah, dicabutlah nikmat kekuasaan itu dan Bani Israil. Maka kuasalah Tuhan menimbulkan suatu kekuasaan baru yang menimbulkan Dunia Baru, yang membuat air bah revolusi dalam alam fikiran manusia, yaitu kedatangan Nabi Muhammad saw, yang mulia timbul dan suatu daerah tandus dan gersang .di padang pasir, di lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan. Seorang pujangga Inggris yang terkenal, Thomas Canlyle, pernah mengatakan bahwa berkat ajaran Muhammad s.a.w maka padang pasir yang kering itu telah berobah menjadi mesiu yang membakar susunan masyarakat lama; ke Barat telah sampai ke Cordova dan ke Timur telah sampai ke Delhi, Dia telah mendirikan pusat-pusat kebudayaan dan peradaban di Damascus, Baghdad, Cairo, Samarkand, Delhi dan menjalar sampai ke pulau-pulau daerah khatulistiwa kita ini.

Di dalam mentafsirkan al-mulku yang berarti kekuasaan itu, Ibnu Abbas telah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-mulku (kekuasaan) itu ialah an-Nubuwwah, yaitu kenabian.

Penafsiran ini dapatlah kita renungkan. Sebab al-mulku yang timbul dalam an-nuhuwwah jauhlah lebih kekal daripada almulku yang didapat di dalam gejala perebutan politik dan kekuasaan, seorang raja naik seorang raja jatuh dan seorang merampas kekuasaan. Satu dinasti timbul dan satu dinasti tenggelam.

Di dalam surat 4 (an-Nisa’, ayat 54) disebutkan bahwa Tuhan Allah menganugerahkan kepada keluarga Ibrahim, kitab dan hikmat. Setelah itu Tuhanpun menganugerahkan mulkan ‘aziman, kekuasaan yang besar yang

Cobalah perhatikan sejarah keturunan Ibrahim, baik Bani Ismail maupun Bani Israil. Yang langsung menjadi penguasa besar (Menteri Urusan dalam bidang keuangan) hanyalah Yusuf di negeri Mesir. Yang langsung menjadi raja yang menduduki takhta hanya Daud dan Sulaiman. Tetapi yang langsung menguasai jiwa manusia hanyalah Nabi-nabi itu. Musa dan Harun menentang kekuasaan Fir’aun, dengan kekuasaan wibawa jiwa, mereka memimpin Bani Israil. Nubuwwat adalah kekuasaan jiwa yang tiada teratasi. Nabi Daniel dalam tawanan Nebukadnezar. Karena kekuasaan jiwanya telah menimbulkan takut pada raja besar itu. Nabi Isa Almasih mengatakan bahwa kerajaan beliau adalah di Syurga bukan di Dunia. Maksudnya ialah bahwa kekuasaan Nubuwwat itu adalah atas jiwa. Kekuasaan besar inilah yang diberikan Allah kepada para Rasul dan para Nabi, sehingga walaupun nabi-nabi tidak ada lagi, namun kekuasaan mereka masih hidup terus-menerus. Berapa banyak kerajaan yang berkuasa di dalam dunia ini, mereka tidak merasa kuat berdiri kalau mereka tidak menyatakan menyandarkan kekuasaan itu kepada sejarah nabi-nabi. Berapa banyak raja-raja Kristen mencantumkan pada rangkaian gelar mereka bahwa mereka adalah “pembela agama Kristen”. Dan beberapa sultan khalifah Islam, baru merasa kekuasaan mereka jadi kokoh kalau nama mereka turut didoakan di dalam khotbah Jum’at. Raja-raja Turki Usmani dengan penuh khidmat memakai gelar “Khadam dan kedua Tanah Suci” (Makkah dan Madinah).

Kekuasaan Nubuwwat adalah kekuasaan atas rohani. Sedang kekuasaan duniawi adalah pada lahir. Seorang pencuri baru dapat dibawa ke muka hakim jika cukup bukti-bukti pencuriannya. Oleh sebab itu seorang pencuri dengan cara yang cerdik sekali mencoba merahasiakan perbuatannya dan menghilangkan bukti bukti, sehingga tidak dapat jaksa menuntut. Tetapi kekuasaan nubuwwat menimbulkan rasa takut pada manusia akan berbuat jahat, sebab ada hukum yang akan diterimanya dan Tuhan, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi-nabi.

Maka dan sebab membaca ayat yang tengah kita tafsirkan ini, kita mendapat dua kesan. Al-Mulku atau kekuasaan baik secara kerajaan dunia ataupun kerajaan nubuwwat diberikan oleh Allah kepada barangsiapa yang dikehendakiNya. Kekuasaan duniawi bisa diberikan dan bisa dicabut. Tetapi kekuasaan nubuwwat yang diberikan kepada Anbiya dan Mursalin, tidak pernah dicabut. Bahkan setelah mereka mati, kekuasaan rohani yang mereka tinggalkan tetap berjalan. Dan Tuhan bisa memuliakan seseorang, walaupun dia bukan raja atau kepala negara.

Seorang ulama besar di Mesir beberapa abad yang telah lain, bernama Al ‘Izzu bin ‘Abdis-Salam sampai digelari orang Suithanul ‘Ulama karena kemuliaan dan kebesaran jiwanya. Kalau dia berjalan di jalan raya, Raja Mesirlah yang dipaksa oleh sesuatu kekuatan ghaib turun dan kudanya apabila bertemu beliau di tengah jalan; bukan beliau yang menyembah membeni hormat kepada raja itu. Kekuatan iman menimbulkan nur(cahaya) pada mata, sehingga bisa menembus ke dalam jantung seseorang yang ditentangnya, walaupun yang ditentangnya itu seorang raja, dan menimbulkan quwwah, yaitu .1 kekuatan luar biasa yang timbul dan dalam.

Sahabatku Mohanimad Nasir, pernah menceritakan kepadaku, bagaimana ayah saya dan guru saya Dr. Syaikh Abdul Karim Amrullah bersikap seketika pertemuan di Hotel Homan di Bandung di dalam rangka satu pertemuan yang diadakan oleh tentara pcndudukan Jepang. Seketika semua telah membeni hormat (SeiKere) mengarah Istana Kaisar Jepang di Tokyo dengan sikap ruku’, beliau sendiri tetap duduk. ini adalah kekuatan batin, bukan kekuatan badan; karena beliau di waktu itu kurus kering ditimpa penyakit asma. Dan iman itU menimbulkan roh atau semangat yang menyebabkan jiwa itu sendiri hidup. Sebab badan dihidupi jiwa, sedang jiwa dihidupi oleh iman, Oleh sebab itu, maka ulama. ulama yang memegang waratsah (pusaka) dan nabi-nabi adalah mempunyai kemuliaan jiwa, yang rata-rata sendiri bila berhadapan dengan dia adalah laksana khadamnya.

Kalau imam Malik masuk ke dalarn majlis Khalifah-khalifah Bani Abbas, semua yang hadir terpaksa berdiri, sebab yang berdiri terlebih dahulu adalah Khalifah sendiri. Khalifah itu rasa dirinya hina dan kotor, munafik di hadapan ulama-ulama yang jujur dan bersedia mati untuk menegakkan kebenaran Tuhan tu. Itulah sebabnya maka raja-raja dan penguasa kerapkali mempergunakan jabatan tinggi, gaji besar, kehormatan, uang bertumpuk-tumpuk untuk membeli kemuliaan ulama itu. Itu sebabnya maka Al-Mu’tashirn yang gagah perkasa, yang telah menangkap Imam Hambali dan merencanakannya dalam penjara selarna 30 bulan, akhirnya kalah oleh semangat Imam Hambali yang tidak mau merubah pendiriannya, walaupun dipaksa dengan berbagai ancaman dan penghinaan.

Adapun ulama-ulama yang lemah jiwanya, yang hanya otaknya yang penuh dengan ilmu-ilmu agama, inilah yang kerapkali terjual dan tergadai ke dalam istana raja-raja dan penguasa-penguasa tertinggi. Kalau ada ulama semacam mi penguasa itu merasa telah berbuat maksiat dalam negara, menindas rakyat, menghisap darah dan mengganggu rumahtangga orang. Sebab ulama yang akan menegurnya yang cukup mempunyai ‘izzah (pribadi) tidak ada lagi. Mulut ulama yang telah mendekati istana itu sudah tidak bisa bicara lagi, sebab telah disumbat dengan emas. Na ‘udzu billahi miii dzalik.

“Engkau masukkan malam kepada siang dan Engkau masukkan siang kepada malam.” (pangkal ayat 27). Artinya Engkau gilirkan peredaran musim, sehari semalam 24 jam; 12 jam mestina untuk siang dan 12 jam untuk malam, tetapi bilangan siang ataupun sebaliknya, sehingga termasuklah atau tersarungiah sebahagian dan hitungan waktu bilangan malam telah termasuk ke siang dan, atau jam bilangan siang termasuk ke dalam malam hari. Kita renungkan edaran siang dan malam ini, yang di dalam edaran itu terjadilah segala peristiwa, sehingga kita dapat mengambil kesan bahwa turun naiknya suatu bangsa, naik atau turunnya bintang seseorang manusia tali-temali dengan edaran zaman ini, sehingga dan sebabnya kita dapat rnenghitung perjalanan sejarah. Sejarah bangsa naik dan bangsa jatuh. Sejarah kekuasaan manusia yang bergilir, dahulu budak jajahan sekarang ummat merdeka. Dahulu dipertuan, sekarang menjadi yang terusir. Kita saja yang kadang-kadang payah menghitung sebelum tahu, tetapi kemudiari kita mengakui kebenarannya setelah melihat kenyataan. “dan Engkau keluarkan yang hidup dan yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup” Dilihat ke segala yang kecil, tampaklah dan telur yang belum bernyawa timbul seekor anak ayam dan hidup, dan dan ayam yang hidup keluar telur yang belum bernyawa. Dan yang kecil dapat kita lihat bangkai anjing di pinggir jalan, beberapa dan terletak lalu timbul ulat yang kecil-kecil beribu-ribu banyaknya, kemudian menjadi langau dan lalat. Maka keajaiban pada mati dan hidup, hidup dan mati pada makhluk yang kecil, sama dengan keajaiban yang didapat pada alam yang besar. Diukur pada bangsa-bangsa pun demikian pula. Allah mengeluarkan yang hidup dan yang mati. Allah menanamkan ajaran Islam yang hidup dan negeni Mekah yang laksana mati karena jahiliyahnya. Berkali-kali pula Allah memperlihatkan kuasa, dan orang yang bodoh lahir seorang anak yang pintar, atau dan seorarg ayah yang pintar, lahir seorang anak yang bodoh. Dan seorang ayah yang shalih timbul anak yang shalih, dan dan ayah yang shalih ada anak yang thalib. “dan Engkau memberi rezeki siapa yang Engkau kehendaki dengan tidak berkira” (ujung ayat 27).

Tidakkah pula berkira-kira kalau dia melimpahkan rezeki kepada makhlukNya. Siapa yang akan mengira dan menghitung, padahal rezeki itu dia punya, dan yang dia beri itu Dia pula yang punya? Dan berapa pun banyaknya Dia memberi tidaklah Dia akan rugi, sebagai yang tersebut di dalam Hadits Qudsi: “Kalau sekiranya orang-oran,g yang dahulu di antara kamu dan orang-orang yang terkemudian, baik jin ataupun manusia, semuanya memohon kepada Allah dan semuanya diberi, tidaklah akan rusak dan kurang kepunyaan Allah, hanyalah laksana memasukkan sebuah jarum ke dalam lautan saja.” Jarum dia yang punya dan laut pun Dia yang punya.

Apabila Allah menyuruh RasulNya membaca ayat mi sebagai doa, dan kemudian dia baca pula sebagai doa, terlepaslah kita dan suasana terombang-ambing melihat perubahan penubahan keadaan dan suasana di dalam alarn mi. Dan tertujulah rasa Tauhid, yaitu menghimpunkan kekuasaan clan kemuliaan kepada yang Saw. Maka bersyukurlah kepada Allah ketika diberiNya kurnia dan bersabarlah atas percobaanNya seketika Dia cabut. Tetapi apabila iman ada dalam hati, perobahan keadaan tidaklah akan merubah hati. Sebab semua kita dan Allah dan akan kembali kepada Allah.

Surat Muhammad, Ayat:19

On=÷æ$$sù* ¼çm¯Rr& Iw tm»s9Î) žwÎ) ª!$# öÏÿøótGó$#ur šÎ7/Rs%Î! tûüÏZÏB÷sßJù=Ï9ur ÏM»oYÏB÷sßJø9$#ur 3 ª!$#ur ãNn=÷ètƒ öNä3t7¯=s)tGãB ö/ä31uq÷WtBur ÇÊÒÈ 19. "Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tingga"l.

Tafsir Al-Azhar

Ujung ayat berbentuk sebagai suatu pertanyaan: “Sudah jadi satu kenyataan hahwa tanda-tanda akan kiamat sudah datang. dan kiamat itu sendiri akan menimpa dengan tiba-tiba. namun tanda-tanda bahwa dia telah dekat dan tidak dapat dihindarkan api sudahlah nyata. Maka bagaimana lagi sikap manusia2 Masihkah mereka akan ingkar juga dan peringatan Nabi-nabi? Masihkah meraka akan memperturutkan juga kehendak hawa nafsu sendiri-sendiri dan tidak mau mendengarkan seruan Allah? Azab siksaan dahsyat macam mana yang akan diderita manusia lagi kalau begini saja terus-menerus?

Di dalam ayat. atau inti tafsir dari pada ayat ni. al-Hasan al-Bishri mengatakan bahwasanya diutusnya Nabi Muhammad sebagai Rasul yang penghabisan adalah alamat juga bahwasanya kiamat itu dekat. Setengah dan pada narna beNa’i ialah al-Hasyir. yang berarti Yang Mengumpul. Sebab akan dikumpulkanlah manusia di hadapan kakinya. Beliau pun bernama al Aqib. yang berarti yang paling akhir. tidak ada lagi Nahi sesudahnya.

Al-Bukhari merawikan scbuah Hadis dengan sanad dan SahI bin Saad hahcva Nahi saw. pcrnah hersabda:

“Aku diutus berdeKatan dengan kiamat laksana ini “lalu beliau isyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau. yang berarti tidak ada pisahnya lagi dan sudah dekat sekali

“Maka ketahuilah bahwasannya tidak ada Tuhan melainkan Allah.” (pangkal ayat 19). Maksudnya ialah supaya manusia kembali mengingat Tuhan. Hanya itulah jalan satu-satunya buat keselamatan manusia. baik di dalam melanjutkan hidup ini. menunggu datangnya kiamat yang pasti akan datang itu Asal manusia ingat akan Keesaan Tuhan akan insaflah manusia bahwa ada Yang Maha Kuasa yang jadi sumber ilham dalam hidupnya.

Oleh karena tujuan utama ayat ialah kepada orang yang telah mengaku iman. percaya kepada Risalat Muhammad s.a.w. maka inilah bekal pertama dan utama mereka di dalam menghadapi kericuhan alam di dalam menghadapi kegoncangan dan ketakutan karena kiamat akan datang. Apa pun yang akan terjadi. namun aku sebagai seorang Muslim tetap memegang teguh pendirianku bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Kemudian itu bersabdalah Tuhan. seterusnya kepada RasulNya. Dan memahon ampunlah engkau bagi dosa engkau dan bagi orang-orang yang beriman laki-laki dan beriman perempuan.

Supaya tafsir ini jangan terkendala pula dalam perselisihan ahli-ahhi tentang berdosakah seorang Nabi atau tidak? Dosa besarkah yang dibuatnya atau dosa kecil. baik Juga kita ingat bahwasanya Rasululluh saw. Sembahyang Surat tahajjud pada tiap-tiap malam. sampai pegal atau penat-penat kakinya. sehingga pada suatu hari Aisyah isteri beliau yang mulia bertanya. mengapa beliau berpayah-payah sembahyang malam begitu rupa, sampai kakinya helihatan sudah kaku dan pegal. padahal dosanya yang telah diampuni dan yang kemudian sudah diampuni’ Maka beliau menjawab “Bukankah patut kalau aku menjadi hamba Allah yang bensyukur? Artinya. keadaan dosanya yang telah diampuni itu membawa heliau ke dalam suasana syukur yang sangat tinggi dan tenharu. sehingga beliau tidak berhenti sembahyang tahajjud tanda syukur. sampai kaki beliau jadi pegal.

Beliau pun pernah menqanjurkan agar ummat beliau memohonkan ampun banyak-banyak kepada Tuhan. sebab beliau sendini siang dan malam. petang dan pagi tidak kurang daripada 70 kali memohonkan ampun kepada Tuhan. Maka keadaan beliau tidak berdosa lagi. baik dosa yang dahulu atau yang terkemudian. bukanlah menyebabkan beliau jadi bangga. lalu beliau malas beribadah. Jauh sikap yang seperti ta bagi beliau bahkan bertambah jaminan Tuhan bahwa dia tidak berdosa. bertambah pula heliau merunduk kepada Ilahi dan tekun bersembah yang Cara tunduk dan khusyu Rasululah saw. itu pernah beliau rupakan sebagai suatu doa demikian bunyinya.


“Ya Tuhan! Ampunilah bagiku kesalahanku dan kebodohankudan kesiasianku pada pekerjaanku dan apa jua pun yang Engkau lebih mengetahuinya dari diriku. Ya Tuhan! Ampunilah kepadaku tentang kelalaianku dan kesungguhanku dan kesalahanku dan kesengajaanku dan senatiasa itu dari sisiku.”

Dan semacam doa beliau s.a.w. pula tersebut dalam sebuah hadis yang shahih jua:


“Ya Tuhan! Ampunilah apa yang terdahulu aku perbuat dan apa yang tenkemudian. dan apa yang aku kerjakan dengan sembunyi dan apa yang aku kerjakan dengan terang-terangan dan apa yang Engkau Iebih tahu daripadaku tentang kesalahan tersebab kelalaianku: engkaulah tuhanku, tidak ada tuhan melainkan engkau!

Dan dalam sebuah Hadis yang shahih pula pernah beliau bersabda:


“Wahai sekalian manusia! Taubatlah kepada Tuhan kamu! Maka sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dan tujuh puluh kali.

Maka terkenallah sumpah Iblis dalam memperdayakan manusia. Iblis bersumpah: “Demi kemuliaan Engkau ya Tuhan dan demi ketinggiun Engkau, aku akan selalu memperdayakan manusia itu selama nyawa meraka masih dikandung oleh badannya.” Lalu hersumpah pula Tuhan “Demi kemuliaanKu dan ketinggianKu Selalu manusia itu akan Aku beri ampun selama mereka itu masih mamohonkan ampun kepadaku.”

Maka di dalam ayat yang tengah kita tafsirkan ini. Nabi Muhammad disuruh memohonkan ampun untuk dirinya sendiri dan utnuk dari segala orang yang berian baik laki-laki atau yang perempuan, sehingga selalu terjadi parlombaan di antara perdayaan iblis dangan usaha manusia yang diberdayakan itu mernohonkan ampun kepada Tuhan.

Di akhir ayat bertemulah sabda Tuhan. “Dan Allah Maha Mengetahui tempat berpindah kamu dari tempat menutup kamu. (ujung ayat 19).

lbnu Abbas telah memberikan saja tafsir yang ringkas tegas tentang kedua kata ini. Tempat berpindah-pindah kamu ialah di dunia. Kita dilahirkan di Tanah Sirah Sungaibatang. Maninjau (1908). lalu pindah dibawa orang tua (1914) ke Padang Panjang. di tahun 1924 mengembara ke Tanah Jawa. 1927 mengerjakan Haji ke Makkah, 1929 kawin. 1931 merantau ke Makassar, 1936 berangkat ke Medan rnenerbitkan majalah 1945 turul daluni revolusi. 1949 pindah ke Tanah Jawa dan entah ke mana lagi. Allahlah yang tahu. Dan tempat menetap kelak ialah bila nyawa tela bercerai dengan badan dan digalikan kubur lalu menetap di sana, menunggu panggilan kiamat.

Surat Adz Dzariyat, Ayat:58

¨bÎ)* ©!$# uqèd ä-#¨§9$# rèŒ Ío§qà)ø9$# ßûüÏGyJø9$# ÇÎÑÈ

58. "Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh".

Tafsir Al-Azhar

“Sesunggubnyn Allah talah yang membeh rezeki” (pangkal ayat 58). Karena hanya Dia yang memberi rezeki, maka tidaklah patut manusia memohon rezeki tu kepada yang lain. Misalnya padi yang tumbuh buat kita makan, tidaklah dia tumbuh di atas setumpak bumi pun yang bukan kepunynan Allah. Dan padi itu pun berkehendak kepada air. Air itu pun tidak akan ada kalau tidak ada hujan. Dan turun hujan pun bukan kita yang mengatur, melainkan Tuhan juga. Jika lama hari tidak hujan, tanah pun kering, tanaman tidak akan tumhuh. Jika hujan itu terlalu lebat, dan sampai berhari-hari, maka timbullah genangan air, air bah, sehingga padi yang hampir masak habis terendam dan rusak.

Berpuluh kali terjadi, beberapa hari sam sebelum panen padinya habis direndam banjir, dan manusia tidak ada upaya buat menghambat kemalangan yang disebahkan banjir, atau air bah itu. Sebab itu di ujung ayat ditegaskan bahwa Tuhan itu adalah: ‘Yang empunya kekuatan yang teguh.” (ujung nyat 58).

Yang menganugerahi seluruh negeri itu ialah dia. Segala rezeki yang kita terima betul-betul karena belas kasihanNya belaka, sesuai dengan munajat yang diajarkan Rasuhillah saw.:


“Tidak ada yang dapat nicnqhalangi hagi apa yang Engkau beri, dan tidak ada pemberi hagi apa yang Enqkau llangi, dan tidak ada yang kuasa menolak bagi apa yang telah Engkau tetapkan.”

Din Maha Kuasa memberi kita makan. Tetapi misalnya kita kaya-raya, lebih dari cukup sedia harta buat persediaan makanan, namun makanan itu tidak akan bisa dimasukkan ke dalam rongga perut kita kalau misalnya kita sakit. Maka yang empunya kekuatan dan keteguhan atas din kita itu jelaslah Tuhan jua adanya.

Maka tersebutlah dalarn scbuah Hadis Qudsi:


“Dari Abu Hurairah r.a. berkata dia: Berkata Rasulullah saw., yakni bersabda Allah Taala: ‘Wahai Anak Adam! Penuhilah hidupmu dengan beribadat kepadaKu, niscaya akan Aku penuhi dada engkau dengan kekayaan dan Aku tutup pintu fakir (miskin) dan engkau. Tetapijika tidak engkau berbuat begitu, niscaya dadamu enqkau penuhi dengan rasa bimbang dan tidaklah akan aku tutup pintu kemiskinan enqkau”

(Rtwayat al-Imarn Ahmad, Terrnidzi dan Jhnu Majah)

Berdasar kepada Hadis ini dapallah kita mengambil kesimpulan bahwasanya kesetiaan beribadat kepada Tuhan adalah menjadi kekayaan sejati bagi seorang Mu’min. Karena hati yang lapang dan fikiran yang tidak pernah merasa bimbang dari ragu akan pertolongan Tuhan melebihi dari segala kekayaan harta benda.

Selanjulnya Tuhan bersabda:

“Maka sesungguhnya bagi orang-orang yang aniaya itu sudah ada ketentuan azab sebagaimana ketentuan kawan-kawan mereka juga.” (pangkal ayat 59). Ayat ini memberi peringatan kepada manusia bahwasanya suatu kesalahan, suatu dosa akhirnya sudah sedia bagian azab yang akan dideritanya. Manusia rnungkin dapat bcrsembunyi dan mata manusia lain, namun dia tidak dapat bersembunyi dari mata Tuhan. Bahkan dari mata manusia sendiri pun akhirnya tidak dapat juga bersembunyi. Sebab suatu dosa merubah budi perangai yang baik menjadi buruk. lbnu Abbas pernah mengatakan bahwa suatu dosa dapat memudarkan cahaya Iman yang tadinya berseri pada wajah seseorang. Orang-orang yang lebih mendalam imannya dapat mengetahui pengaruh dosa itu sebagaimana yang diceritakan oleh Anas bin Malik sahabat Rasulullah saw.

Beliau bercerita hahwa pada suatu han dia akan pergi ke dalam majlis Khalifah Amirul Mu’minin Usman bin Affan. Di tengah jalan beliau tertarik kepada seorang perenpuan cantik yang bersclisih jalan dengan bellau. Walaupun pakaiannya menutupi tubuhnya, namun leriggangnya berjalan menunjukkan juga besar pinggulnya, sehingga tersinggung juga perasaan Anas melihatnya. Tetapi Saiyidmna Anas dapat juga mengendalikan diri dan menegur dengan sopan dan tidak lagi mengulang penglihatan kepada si perempuan dan dia pun meneruskan perjalanan terus Ice dalam majlis Amirul Mu’minin dan duduk di hadapan beliau dengan hormatnya. Tetapi beberapa lama dia duduk Saiyidina Usman bin Allan berkata:


“Aku melihat zina di kedua matamu!”

Dengan kagum Anas bin Malik bertanya:

Surat Al-Ikhlash, Ayat:1-4

ö@è%* uqèd ª!$# îymr& ÇÊÈ ª!$# ßyJ¢Á9$# ÇËÈ öNs9 ô$Î#tƒ öNs9ur ôs9qムÇÌÈ öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7ymr& ÇÍÈ

1. "Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa".

2. "Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu".

3. "Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan",

4. "Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."

Tafsir Al-Azhar

“Katakanlah” Hai UtusanKu “Dia adalah Allah, Maha Esa.” (ayat 1). Inilahah pokok pangkal akidah, puncak dan kepercayaan. Mengakui bahwa yang

dipertuhan itu Allah namaNya. Dan itu adalah nama dari Satu saja. Tidak Ada tuhan selain Dia. Dia Maha Esa, mutlak Esa, tunggal, tidak bersekutu yang lain dengan Dia.

Pengakuan atas Kesatuan, atau KeEsaan, atau tunggalNYa Tuhan dan namaNya ialah Allah, kepercayaan itulah yang dinamai TAUHID. Berarti menyusun fikiran yang suci murni, tulus ikhlas bahwa tidak mungkin Tuhan itu iebih dari satu. Sebab Pusat Kepercayaan di dalam pertimbangan akal yang sehat dan berfikir teratur hanya sampai kepada SATU.

Tidak ada yang menyamaiNya, tidak ada yang menyerupaiNya dan tidak pula ada teman hidupNya. Karena mustahillah kalau Dia lebih dari satu. Karena kalau Dia berbilang, terbahagilah kekuasanNya. Kekuasaan yang terbagi, antinya sama-sama kurang berkuasa.

‘Allah adalah pergantungan.” (ayat 2). Artinya, bahwa segala sesuatu ini adalkah Dia yang menciptakan, sebab itu maka segala sesuatu itu kepadaNyalah bergantung. Ada atas kehendakNya.

Kata Abu hurairah: “Arti ash-Shamadu ialah segala sesuatu memerlukan dan berkehendak kepada Allah, berlindung kepadaNya, sedang Dia tidaklah berlindung kepada sesuatu jua pun.”

Husain bin Fadhal mengartikan: “Dia berbuat apa yang Dia mau dan menetapkan apa yang Dia kehendaki.”

Muqatil mengartikan: ‘Yang Maha Sempurna. yang tidak ada cacatNya.”

“Tidak Dia beranak, dan tidak Dia diperanakkan.” (ayat 3).

Mustahil dia beranak. Yang memerlukan anak hanyalah makhluk bernyawa yang menghendaki keturunan yang akan melanjutkan hidupnya. Seorang yang hidup di dunia ini merasa cemas kalau dia tidak mendapat anak keturunan. Karena dengan keturunan itu berarti hidupnya akan bersambunq. Orang yang tidak beranak kalau mati, selesailah sejarahnya hingga itu. Tetapi seseorang yang hidup, lain beranak dan bersambung lagi dengan cucu, besarlah hatinya, karena meskipun dia mati dia merasa ada yang menyambung hidupnya.

Oleh sebab itu maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mustahil memerlukan anak. Sebab Allah hidup terus, tiduk akan pernah mati-mati. Dahulunya tidak bepernulaan dan akhirnya tidak berkesudahan. Dia hidup terus dan kekal terus, sehingga tidak memerlukan anak yang akan rnelanjutkan atau menyambung kekuasaanNya sebagai seorang raja yang meninggalkan putera mahkota.

Dan Dia, Allah itu, tidak pula diperanakkan. Tegasnya tidaklah Dia berbapa. Karena kalau Dia berbapa, teranglah bahwa si anak kemudian lahir ke dunia dan ayahnya, dan kemudian ayah itu pun mati. Si anak rnenyambung kuasa. Kalau seperti orang Nasrani yang mengatakan bahwa Allah itu beranak dan anak itu ialah Nabi isa Almasih, yang menurut susunan kepercayaan mereka sama dahulu tidak bepernulaan uan sama akhir yang tidak berkesudahan di antara sang bapa dengan sang anak, maka bersamaanlah wujud di antara si ayah dengan sianak, sehingga tidak perlu ada yang benama bapak dan ada pula yang bernama anak. Dan kalau anak itu kemudian baru lahir, nyatalah anak itu suatu kekuasaan atau ketuhanan yang tidak perlu, kalau diakui bahwa si bapa kekal dan tidak mati-mati, sedang si anak tiba kemudian.

“Dan tidak ada bagiNya yang setara, seorangpun” (ayat 4). Ketenangan; Kalau diakui Dia beranak, tandanya Allah Tuhan itu mengenal waktu itu. Dia memerlukan anak untuk menyilihkan kekuasaanNya.

Kalau diakui diperanakkan, tandanya Allah itu pada mulanya masih muda yaitu sebelum bapaNya mati. Kalau diakui bahwa Dia berbilang, ada bapa ada anak, tetapi kedudukannya sama, fikiran sehat yang mana jua pun kan mengatakan bahwa “keduanya” akan sama-sama kurang kekuasaannya, Kalau ada dua yang setara, sekedudukan, same tinggi pangkatnya, sama kekuasaannya atas alam, tidak ada fikiran sehat yang akan dapat menerima kalau dikatakan bahwa keduanya itu berkuasa mutlak. Dan kalau’keduanya sama tarafnya, yang berarti sama-sama kurang kuasanya, yakni masing-masing mendapat separuh, maka tidaklah ada yang sempurna ketuhanan keduanya Artinya bahwa itu bukanlah tuhan. Itu masih alam, itu masih lemah.

Yang Tuhan itu ialah Mutlak kuasaNya, tiada terbagi, tiada separuh seorang, tiada bandingan, tiada bandingan dan tiada tandingan. Dan tidak pula ada tuhan yang nganggur, belum bertugas sebab bapanya masih ada!

Itulah yang diterima oleh penasnan yang bersih murni. ltulah yang dirasakan oleh akal cerdas yang tulus. Kalau tidak demikian, kacaulah dia dan tidak bersih lagi. Itu sebabnya maka Surat itu dinamai pula Surat al-lkhlas; artinya sesuai dengan jiwa murni manusia, dengan logika, dengan berfikir teratur.

Tersebutlah di dalam beberapa riwayat yang dibawakan oleh ahli tafsir bahwa asal mula Surat ini turun ialah karena pernah orang musyrikin itu meminta kepada Nabi; “Shif lanaa rabbaka”; (Coba jelaskan kepada kami apa macamnya Tuhanmu itu, emaskah dia atau tembaga atau loyangkah?).

Menurut Hadis yang dirawikan oleh Termidzi dari Ubay bin Ika’ab memang ada orang musyrikin meminta kepada Nabi supaya diuraikannya nasab (keturunan atau sejarah) Tuhannya itu. Maka datanglah Surat yang tegas ini tentang Tuhani.

Abus Su’ud berkata dalam tafsirnya; “Diulangi nama Allah sampai dua kali (ayat 1 dan ayat 2) dengan kejelasan bahwa Dia adalah Esa, Tunggal, Dia adaIah pergantungan segala makhluk, supaya jelaslah bahwa yang tidak mempunyai kedua sifat pokok itu bukanlah Tuhan. Di ayat pertama ditegaskan KeesaanNya, untuk menjelaskan bersihNya Allah dan berbilang dan bersusun, dan dengan menjelaskan bahwa Dialah pergantungan segala makhluk, jelaslah bahwa padaNyna terkumpul segala sifat Kesempurnaan.

Dia tempat berlindung; bukan Dia yang mencari perlindunqan kepada yang lain, Dia tetap ada dan kekal dalam kesempurnaanNya, tidak pernah berkurang. Dengan penegasan “Tidak beranak”, ditolaklah kepercayaan setengah manusia bahwa malaikat itu adalah anak Allah atau isa Al masih adalah anak Allah. Tegasnya dan Allah itu tidak ada timbul apa yang dinamai anak, karena tidak ada sesuatu pun yang mendekati jenis Allah itu, untuk jadi jodoh dan “teman hidupnya”, yang dari pergaulan berdua timbullah anak.’

Sekian Abus Suud.

Imam Ghazali menulis di dalam kitabnya “Jawahinil-Quran “Kepentingan al-Quran itu ialah untuk ma’rifat terhadap Allah dan ma’rifat terhadap hari akhirat dan ma’rifat terhadap ash-Shirathal Mustaqim. Ketiga ma’rifat inilah yang sangat utama pentingnya. Adapun yang lain adalah pengiring-pengiring dari yang tiga ini. Maka Surat al-lkhlas adalah mengandung satu daripada ma’rifat yang tiga ini, yaitu Ma’nifatullah, dengan membersihkanNya, mensucikan fikiran terhadapNya dengan mentauhidkanNya daripada jenis dan macam. ltulah yang dimaksud bahwa Allah bukanlah pula hapa yang menghendaki anak, laksana pohon. Dan bukan diperanakkan, laksana dahan yang berasal dari pohon, dan bukan pula mempunyai tandingan, bandingan dan gandingan.”

Ibnul Qayyim menulis dalam Zaadul Ma’ad; “Nabi saw. selalu membaca pada sembahyang Sunnat al-Fajar dan sembahyang al-Witir kedua Surat alflchlas dan al-Kafirun. Karena kedua Surat itu mengumpulkan Tauhid ilmu dan Amal, Tauhid Mn’nifat dan iradat, Tauhid itiqad dan Tujuan. Surat al-ikhlas mengandungi Tauhid i’tiqad dan Ma’rifat dan apa yang wajib dipandang tetap teguh pada Allah menurut akal murni, yaitu Esa, Tunqgal. Nafi yang mutiak daripada barsyarikat dan bersekutu, dart segi mana pun. Dia adalah Pergantunqan yang tetap, yang padaNya terkumpul segala sifat kesempurnaan, tidak pernah berkekurangan dan segi mana pun. Nafi daripada beranak dan diperanakkan, karena kalau keduanya itu ada, Dia tidak jadi pergantungan lagi dan KeesaanNya tidak bersih lagi. Dan Nafi atau tiadanya kufu’, tandingan, bandinqan clan gandingan adalah menafikan perserupaan, perumpamaan ataupun pandangan lain. Sebab itu maka Surat mi mengandung segala kesempurnaan bagi Allah dan menafkan segala kekurangan. inilah dia Pokok Tauhid menurut ilmiah dan menuru akidah yang melepaskan orang yang berpegang teguh kepadanya daripada kesesatan dan mempersekutukan.

Itu sebab maka Surat al-ikhlas dikatakan oleh Nabi Sepertiga Quran.

Sebab al-Quran berisi berita (khabar) dan lnsyaa. Dan insyaa mengandung salah satu tiga pokok; (1) perintah, (2) larangan, (3) boleh atau diizinkan. Dan Khabar dua pula; (1) Khabar yang datang dan Allah sebagai pencipta (Khaliq) dengan nama-namaNya dan sifat-sifatNya dan hukum-hukumNya. (2) Khabar dari makhlukNya; maka diikhlaskanlah oleh makhluk di dalam Surat al-ikhlas tentang nama-namaNya dan sifat-sifatNya; sehingga jadilah isinya itu mengandung sepertiga al-Quran. Dan dibersihkannya pula barangsiapa yang membacanya dengan Iman, daripada mempersekutukan Allah secara ilmiah.

Sebagaimana Sunat al-Kafirun pun telah membersihkan dan syirik secara amali, yang timbul dari kehendak dan kesengajaan.”

Sekian ibnul Qayyim.

Ibnul Qayyim menyambung lagi: “Menegakkan akidah ialah dengan ilmu. Pensediaan ilmu hendaklah sebelum beramal, Sebab ilmu itu adalah imam, penunjuk jalan, dan hakim yang memberikan keputusan di mana tempatnya dan telah sampai di mana Maka “Qul huu’allaahu Ahad” adalah puncak ilmu teritana akidah. Itu sebab maka Nabi mangatakanya sepertiga al-Quran. Hadis-hadis yang mengatakan demikian boleh dikatakan mencapai derajat mutawafir. Dan “Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruuna” sama nilainya dengan seperempat al-Quran. Dalam sebuah Hadis dan Termidzi, yang dirawikan dari lbnu Abbas dijelaskan: “Idzaa Zuizilatil Ardhu” sama nilainya dengan separuh alQuran. “Qul Huu’allaahu Ahad” sama dengan sepertiga al-Quran dan “Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruna” sama nilainya dengan seperempat al-Quran.

Al-Hakim merawikan juga Hadis ini dalam al-Mustadnmlcnya dan beliau berkata bahwa lsnad Iladis ini shahih

Maka tersebutlah dalam sebuah Hadis yang dirawikan oleh Bukhari dari Aisyah, moga-moga Allah menidhamnya bahwa Nabi saw. pada satu waktu telah mengirim siah (patroli) ke suatu tempat. Pemimpin patroli itu tiap-tiap sembahyang yang menjahar menutupnya dengan membaca “Qul Huwallaahu Ahad.” Setelah mereka kembali pulang, mereka khabarkanlah perbuatan pimpinan mereka itu kepada Nabi saw. Lalu beliau saw. punkata: “Tanyakan kepadanya apa sebah dia lakukan demikian.’ LaIu mereka pun bertanya kepadanya, (mengapa selalu ditutup dengan membaca Qul Huwallaahu Anad).

Dia menjawab: “itu adalah sifat dan Tuhan Yang Bersifat Ar-Rahman, dan saya amat senang membacanya.”

Mendengar keterangan itu bersabdalah Nabi saw.: “Katakanlah kepadanya bahwa Allah pun senang kepadanya”

Dan tempatkanlah juga beberapa sabda Rasul yang lain tentang kelebihan Surat aI-ikhlas ini. Banyak pula Hadis-hadis menenangkan pahala membacanya. Bahkan ada sebuah Hadis yang diterima dan Ubay dan Anas bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

“Diasaskan tujuh petala Ian it dan tujuh petala burni atas Qul Huwallaahu Ahad.”


Betapa pun derajat Hadis ini, namun maknanya memang tepat. Al-Imaran az-Zamakhsyari di dalam Tafsirnya memberi arti Hadis ini; “Yaitu tidaklah semuanya itu dijadikan melainkan untuk rnenjadi bukti atas mentauhidkan Allah dan mengetahui sifat-sifat AIlh yang disebutkan dalam Surat ini.”


“Diriwayatkan oleh Termidzi dari Abu Hurairah, berkata dia: “Aku datang bersama Nabi saw. Tiba-tiba beliau den gar seseorang membaca “Qul Huwallaahu Ahad”. Maka berkatalah beliau saw.: “Wajabat” (Wajiblah). Lalu aku bertanya: “Wajib apa ya Rasul Allah?” Beliau menjawab: “Wajib orang itu masuk syurga.” Kata Terrnidzi Hadis itu Hasan (bagus) dan shahih.



[1] Lihat Syrat al-kahfi, surat 18 ayat 23 dan 24 dan lihat surah 31, Lukman ayat 34.

0 komentar:

Poskan Komentar