Pages

Rabu, 02 Juni 2010

Mata Rantai Tasawuf

+B.Mata Rantai Tasawuf

1.Tasawuf abad ke 1dan ke 2 Hijriah (Dari zuhud ke tasawuf )

pada periode tabiin, sekitar abad ke 1 dan ke 2 Hijriah, kondisi social politik mulai berubah dari masa sebelumnya.konflik politik yang berawal dari masa Usman bin affan it u terus berlanjut. Berikutnya muncullahkelompok-kelompok Muawwiyah, syiah,Khawarij, dan Murjiah. Sejak awal kekuasaan bani Umayah, Kehidupan politik berubah total. Mereka mulai menganut sistem pemerintahan monarki. Semua lawan politiknya di kejar kemana-mana untuk di bersihkan.Puncaknya pada peristiwa terbunuhnya Husen bin Ali bin Abi Thalib di Karbala.

Sebagai khalifah Monarkhi pertama, Muawwiyah mulai menjauh dari tradisi kehidupan nabi yang memiliki pola hidup yang sederhana dan semakin dekat ke tradisi kehidupan raja-raja Rumawi yang memiliki pola hidup yang mewah. Kemudian di teruskan oleh anaknya, Yazid ,yang memerintah 61-64 H, dikenal sebagai dengan khalifah yang mengumbar hawa nafsu, hidup mewah, menganggap enteng ajaran agama, dan ia di kenal sebagai pemabuk.

Dalam situasi yang demikian itu,kaum muslimin yang saleh merasa berkewajiban menyerukan kepada masyarakat untuk hidup sederhana,Zuhud, Saleh, dan tidak terbiur oleh hawa nafsu. Penyeru tersebut, antara lain, Abu Dzar Al Ghifari. Dia melancarian Kritik tajam kepada bani Umayah yangf tenggelam dalam kemewahan dan menyerukan agar keadilan social dalam islam, diterapkan kembali.

Di antara mereka mulai merindukan kesederhanaan kehidupan nabi dan para shabatnya.Mereka mulai merenggangkan diri dari kehidupan mewah. Sejak itu kehidupan Zuhud mulai bertumbuh di masyarakat. Mereka mengelompok pada pola hidup Zuhud (zahid,zuhhad ), bertekun beribadah (abid, ubbad)dan menempuh jalan batin (nasik, nussak )

Di kota Basrah, di kenal Hasan al basri. Ia di besarkan dalam asuhan ali bin abi thalib dan banyak belajar tentang ilmu kerohanian darinya. Beliau adalah seorang zahid yang berlandaskan pada nilain khauf , yaitu takut terjerumus pada maksiat hingga Allah murka, dan diiringi dengan raja, yaitu senantiasa mengharapkan rahmatnya.Hal ini memunculkan minat untuk menghindari kelezatan duniawi (zuhud ) untuk meraih yang ukhrawi. Pesannya seperti ini :jauhilah dunia ini, karena karena ia sebenarnya serupa dengan ular, licin pada perasaan tetapi racunnya mematikan.

Tokoh tabiin di kufah, antara lain Sofyan Tsauri ( 97-161 H ) Yang terkenal dengan kealimannya dalam hadits (bergelar khalifah hadis )dan fiqh ( sebagai Mujtahid mutlak ). Dalam kerohanian , Ia terkenal zuhud , dan sanggup menentang penguasa Zalim.

Warna kezuhudan lebih tampak paeda Rabiah Al adawiyah (95-185 H ) seorang anak keluarga miskin, hidup sebagai hamba sahaya kemudian menjalani hidup zuhud.Hari-harinya di habiskan di tikar sajadah. Yang menjadi pendorongnya itu adalah rasa cintanyakepada tuhan, sehingga tidak tersisa lagiruang di hatinya selain itu, untuk memperoleh balasan cintanya itu.

Pada akhir abad ke 2Hijriah, peralihan dari zuhud ke tasawuf sudah mulai nampak. Analisis singkat tentang kesufian yang di pelopori oleh tokoh-tokohkerohanian yang zahid itu mulai bermunculan.

2.Kajian Tasawuf pada abad ke -3 dan ke-4 Hijriah

Pada abad ke -1 dan ke -2 Hijriah, cara hidup zuhud sudah dimulai lalu pada abad ke-3 ke-4 ini dimulailah kajian-kajian kesufian. Dalam kajian tersebut terdapat dua kecenderungan para tokoh.

Pertama, cenderung pada kajian tasawuf yang lebih bersifat ahlak yang didasarkan pada Al-Qur’an dan As-sunah (Tasawuf sunni ). Tokohnya antara lain Haris Al Muhasibi ( 165-243 H )banyak mengkaji soal disiplin diri (Muhasabah ).pembicaraanya yang lebih rinci tertuang dalam karyanya al-Ri’ayat li huquq Allah ( menjaga hak Allah )yang banyak mempengaruhi AL Ghazali dalam menyusun karyanya IIlhya Ulum al Din. Tokoh nya antara lain adalah abu Nasr as saraj, dengan karyanya Kitab al luma, Abu Thalib al Makki, dengan karyanya Qut al Qulub, dan Abu Bakar alKalabazi, dengan karyanya Taaruf li Mazhab ahl Tasawuf ( perkenalan pada aliran ahli tasawuf )

Kedua, cenderung pada kajian tasawuf filsafat dan berbaur dengan kajian metafisika. Tokohnya antara lain, Zun Nun al Misri ( 180-246 H ). Ia seorang sufi juga ahli kimia, dikenal sebagai bapak teori Makrifat. Menurutnya pengetahuan tentang tuhan ada tiga tingkatan ,yaitu

1. Pengetahuan awam, yaitu mengenal tuhan melalui ucapan syahadat

2. pengetahuan alim, mengenal tuhan melalui logika

3. pengetahuan arif, yaitu mengenal tuhan melalui qalbu.

Pengetahuan yang ke tuga ini di sebut Makrifat, dan orangnya di sebut dengan arif. Tokoh lainnya adalah Abu Yazid al Busthami, al Hallaj.

Pada periode ini mulai muncul tarekat-tarekat sufi pada bentuknya yang awal. Didalamnya ada Mursyid, yaitu pemimpin tarekat, ada murid, yaitu pengikut tarekat ( salik , ada ribath, yaitu sebuah pondok tempat untuk bertarekat. Seperti Tarekat Taifuriah yang di nisbahkan kepada Abu yazid al Bhustami.

3. Perkembangan Tasawuf pada abad ke-5 Hijriah

Setelah al hallaj meninggal, Tasawuf filsafat semakin tenggelam. Sementaratasawuf sunni semakin mendapat tempat di hati masyarakat. Hal ini sejalan dengan keunggulan teologi Asy’ariyah yang sejalan dengan tasawuf sunni. Tokoh tasawuf yang muncul pada periode ini adalah Abu Qasim Abdul Karim al Qusyairi ( 376-466 H ) Penulis ar risalah al Qusyariah yang mengangkat kerangka teori tasawuf. Abu Ismail Abdulah bin Muhammad al Anshari al Harawi ( 396-481 H )dengan karyanya Manazil as Sairin ila Rabb al alamin ( kedudukan orang-orang yang mendekatkan diri pada Allah )yang Mengurai tentang maqamat para sufi yang memiliki awal dan akhir.

Puncaknya adalah pada masa al Ghazali yang karena jasanya beliau mendapat gelar hujjatul Islam. Beliau menempuh dua masa kehidupan yang berbeda .

Pertama, Ketika penuh semangat menimba ilmu, mengajar, berkedudukan sebagai guru besar di Nazamiyah, dan kedua masa syak terhadap kebenaran ilmu yang di perolehnya dan kedudukannya yang di pegangnya . Akhirnya kewraguan itu terjawab melalui pengalaman spiritualnya. Ini terjadi diakhir masa pertamanya, sebagai masa peralihannya. Maka bagian kedua masa kehidupannya dilalui dengan ketentraman dan kebeningan tasawuf. Pada masa ini beliau banyak menulkis tentang tasawuf. Karyanya, antara lain, adalah ihya Ulum al Din yang paling populer dan di terjemahkan ke berbagai bahasa. Di dalamnya beliau mendamaikan konflik antara teolog, fuqaha, dan sufi. Juga di bahas tentang ibadah, kebiasaan dalam kehidupan, dosa yang membinasakan, jalan menuju keselamatan berupa maqamat dan ahwal.

0 komentar:

Poskan Komentar