Pages

Rabu, 02 Juni 2010

TAFSIR AKHIRAT

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam memandang hidupnya manusia terbagi dua, yaitu; pandangan hidup ukhrowinya dan pandangan hidup duniawinya. Pandangan hidup ukhrowiyah adalah pandangan bahwa hidup adalah semata-mata untuk beribadah kepada Allah dengan menjalankan fungsi peran yang diamanahkan Allah agar selamat di dunia dan akhirat dalam keridhoannya.

Sedangakan pandangan hidup dunia adalah; memandang hidup dunia ini sebagai kehidupan terakhir tanpa adanya pertanggungjawaban di akhirat atau memandang kehidupan di dunia tidak berhubungan dengan kehidupan di akhirtat atau ada hubungan, tetapi dalam pandangan yang sempit dan parsial atau akhirat tidak dipandang sebagai kehidupan sesungguhnya.

Memilih kehidupan ukhrowiyah adalah wajib berdasarkan dalil al-Quran surat albaqarah ayat 3-4

“. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.4. yang menguasai[4] di hari Pembalasan”

Kalau memahami hidup untuk ibadah, maka memandang kehidupan di dunia harus dengan pemahaman bahwa hidup di dunia itu adalah menjalankan kewajiban seperti yang diperintahkan, lalu kita akan segera kembali ketempat tinggal sebenarnya. Ini yang disebut dengan orientasi hidup. Orientasi hidup bisa juga disebut dengan tujuan hidup artinya hidup dan kehidupan di dunia wajib ditunjukan untuk kehidupan yang hakiki,

Kehidupan yang sebenar-benarnya dan selama-lamanya, kehidupan yang kekal abadi yaitu Negara akhirat.

Sehingga supaya manusia hidup dan kehidupannya berorientasikan ukhrowi, maka Allah telah mengutus Rasul-Nya dan menurunkan al-Quran sebagai hudan atau petunjuk hidup manusia yang benar yang dijalankan oleh Rasulullah supaya dalam memandang hidup dan kehidupan sesuai dengan kehendak Allah.

Rasul adalah penafsir pertama terhadap al-Quran serta memberikan penjelsan mengenai pelaksanaan perintah yang terkandung dalam al-Quran, dan langsung memberikan contoh bagaimana al-quran itu dilaksanakan, sehingga ketika Rasulullah masih hidup tidak begitu banyak penafsiran terhadap al-Quran karena Rasul langsung memprkatekannya. Tetapi setelah Rasulullah itu wafat permasalahan yang dihadapi semakin kompleks, maka orang-orang yang hafal dan memahami al-Quran bisa memberikan penjelaasan lebih banyak mengenai al-Quran dengan landasan penafsiran yang dilakukan oleh Rasul serta apa-apa yang dilakukan masyarakat di sekitar Rasulullah. Sihingga muncullah para mufasir untuk menjelaskan isi kandungan al-Quran.

B. Perumusan Masalah

Ingin mengetahui penafsiran dari para mufasir tentang ayat-ayat yang berkenaan dengan akhirat.

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui penafsiran ayat-ayat al-Quran yang berkenaan dengan masalah akhirat.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Al-Quran Surat al-Qhashs ayat 77

77. dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Penafsirannya

Menurut kebanyakan ulama ahli tafsir,dalam ayat sebelumnya ayat 76. Karun yang dikisahkan dalam beberapa ayat ini adalah saudara sepupu Nabi Musa a.s akan tetapi ia bersikap munafik terhadap Nabi Musa dan menjadi binasa karena kemunafikannya dan sikap sombongnya sehubungan dengan kekayaan yang melimpah ruah yang dikaruniakan Allah kepadanya, yang karena sangat besarnya kekayaan dan pembendaharaan yang ia miliki, sampai-sampai kunci-kunci khajanahnya bila ia keluar, harus dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. Ia di neri nasihat oleh beberapa orang dari kaumnya yang berkata kepadanya: “janganlah engkai terlalu bangga dan gembira dengan apa yang engkau miliki sehingga engkau melampui batas dan lupa daratan, sesungguhnya Allah tidaj menyukai orang-orang yang membanggakan diri dan tidaj bersykur kepada Allah yang telah memberikan nimat itu kepadanya. Dan hendaklah engkau gunakan kekayaan yang Allah berikan kepadamu itu untuk beribadah kepada Tuhanmu dan berbuat baik kepada sesame manusia dengan jalan menafkahkan sebagai dari harta kekayaanmu untuk menolong mereka yang membutuhkan pertolonganmu dan di samping itu janganlah engkau melupakan bagianmu dari kanukmatan duniawi yang diperkenankan oleh Allah berupa makanan, minuman, pajaian, perkawinan dan perumahan, asalkan saja jangan sampai melampaui batas. Dan janganlah engkau dengan klekayaanmu itu berbuat kerusakan dan berlaku sewenang-wenang di atasbumi Allah ini, krana Allah sekali-kali tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

B. Al-Quran Surat at-Taubah ayat 38

38. Hai orang-orang yang beriman, Apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.

Penafsirannya

Ayat ini adalah semacam sesalan dari pihak Allah swt. Terhadap para mukmin yang telah absen dan tidak turut serta bersama Rasululah SAW. Dalam perang Tabuk yang terjadi pada musim panas dan buah-buahan yang lejat-lejat. Allah berpirman “Mengapa kamu jika di himbau dan di ajak untuk berjihad di jalan Allah, kamu bermalas-malas dan merasa berat meninggalkan kehidupanmu yang santai dan senang. Kesenagan itu hanyalah berangkat bersama rasululah saw. Melaksanakan perang jihad. Apakah kamu merasa puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan akhiratmu kelak, padahal kehidupan di dunia itu di bandingkan dengan kehidupan akhirat adalah sangat tidak bararti.

Di riwayatkan oleh Imam Ahmad dari Mustaurid, bahwa Rasululah saw. Bersabda: yang artinya “perbandingan ( kehidupan ) di dunia dengan ( kehidupan ) di akhirat adalah seperti seorang di antara kamu mencabut jari telunjuknya di dalam air laut, maka hendaklah di lihatnya dengan apa kembali jari telunjuk itu!”

Berkata Al-Amasy tentang ayat ini “kehidupan di dunia itu adalah hanya seperti bekalnya seorang musafir.”

Di kisahkan oleh Abu Hazim, bahwa tatkala Abdul Aziz bin Marwan mendekati ajalnya, ia minta di perlihatkan kain kapan yang akan di kenakan padanya jika ia sudah wafat. Maka ketika di perlihatkan kepadanya, ia mengawasi kain kapan itu seraya berkata. “Oh dunia,sungguh sangat sedikit banyakmu dan sungguh pendek sedikitmu, dan sesungguhnya kami semua terbujuk olehmu.”

Allah mengancam orang-orang yang enggan berjihad memenuhi seruan dan himbauan Rasululah saw. Akan di beri siksa yang pedih, dan Allah akan menggantikan mereka dengan kaum lain untuk menolong Nabi-Nya menegakan Agama Allah dan sekali-kali tidak aka ada mudharat sedikit pun bagi Allah karena keengganan mereka berjihad. Karena Allah adalah Mahakuasa untuk menggalahkan dan menghancurkan musuh-musuh agama-nya walaupun tanpa ikut serta mereka.

C. Al-Quran Surat Ad-Duha ayat 4

“ dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)”(ayat 4)

Penafsiran

Janganlah berduka cita jika kadang-kadang terlambat datang wahyu itu kepadamu. Menurut tafsiran dari al-Qasimi;” Yang di ujung pekerjaanmu ini akan lebih baik dari permulaannya.” Artinnya jika di permulaan ini kelihatan agak sendat jalannya, banyak tantangan dan perlawanan. Namun akhir kelak-nya engkau akan mendapat hasil yang gilang-gemilang.

Dengan ayat ini di berikanlah kepada Rasul saw dan kepada orang yang menyambung usaha Rasul sebagai tuntunan hidup, agar merasa besar hati dan besar harapan melihat masa depan. Meskipun perjuangan itu dimulai dengan serba kesusahan, namun pada akhirnya kelak akan di dapat hasil yang baik. Dan ini bertemu dalam sejarah kebangkitan Islam.

Asal pekerjaan telah di mulai, akhir pekerjaan niscaya akan mendapati yang lebih baik dari pada yang permulaan. Yang poko ialah keteguhan niat dan azam di sertai pula dengan doa.

D. Al-Quran Surat al-Baqarah ayat 86

86. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.

Pnafsirannya

“Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat”(pangkal ayat 86).Alangkah tepat ungkapan ini untuk merebut hidup dan kemegahan dunia yang pana, kedudukan pendeta-pendeta, ketinggian dalam pandangan masyarakat pengikut yang bodoh-bodoh, mereka lemparkan isi taurat mereka oleh karena kalau dituruti isi taurat pegangan itu sebenar-benarnya niscaya mereka menerima al-quran dan mengikuti Nabi s.a.w. Kalau isi taurat dan al-quran itu mereka ikuti, selamatlah mereka dunia dan akhirat. Apalah lagi diakhirat. Tetapi mereka tidak mau menerima kebahagiaan akhirat itu. untuk mempertahankan kemegahan dunia. Akhirnya akhirat tidak dapat,dunia yang dipertahankan itu hilang pula dari tangan.”maka tidaklah akan diringankan bagi mereka siksaan itu.” Baik siksaan dunia dengan kekalahan mereka yang berturut-turut, sehingga akhirnya di jaman khalifah Umar bin Khathab, sisa-sisa mereka yang tinggalpun di sapu bersih, tidak boleh seorang juapun tinggal di Zazirah Arab. Padahal tidaklah mereka di paksa sekali juga masuk islam, bahkan mereka diberi kehormatan sebagai “Ahlul Kitab”.Diakhiratpun niscahya azab itu tidak juga akan diringankan.”dan tidaklah mereka akan ditolong.” (ujung ayat 86).

Penolong sebenarnya di dalam kesusahan mereka hanyalah Tuhan yang didurhakai, siapa orang lain yang akan menolong?

Dan kalau kita pikirkan lagi, orang Yahudi di seluruh dunia di zaman sekarang hanyalah kira-kira 15 juta banyaknya, sedangkan kaum Muslimin menurut catantan setengah pencatat telah mencatat jumlah sampai 500 juta. Tersebar di seluruh tanah yang penting di Timur dan tersebar di mana –mana di dunia. Berapa kali pula mereka telah terpecah sesama sendiri ? bukanlah seketika orang islam di keluarkan dari Spanyol habis-habisan setelah kekalahan kerajaan Bani-Ahmar di Granada, tidak ada orang islam dari negri lain yang sungguh- sungguh membela? Bukanlah peperangan hebat terjadi 300 tahun yang lalu dinantara kerajaan islam Turki dengan Kerajaan Islam Persia (Iran) karena pertentangan mazhab pada lahirnya dan perebutan tanah kuasa pada batinnya ? Dan di saat-saat itu pulalah mulai berkembang penjajahan Negara-negara Barat kepada Negara-negara Islam.

Moga-moga ayat yang dimulai untuk Bani Israil ini yamg tinggal tertulis untuk kita, menjadi I’tibar dan perbandingan bagi kita Karena hokum perjalanan sejarah di dunia ini telah diatur oleh Allah dalam satu aturan yang adil, sebagaimana yang banyak ditulis oleh seorang ahli filsafat sejarah islam sendiri Allamah Ibnu Kaldun.

E. Al-Quran Surat Hud ayat 15-16

15. Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.

16. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan

Penafsirannya

Apa Yang Dituju Dalam Hidup ?

Apakah yang engkau tuju dalam kehidupan ini? Apakah ambisi yang memenuhu hatimu dalam perjuangan hidup itu? Apakah engkau menginginkan dunia dengan segala perhiasan ? jika engkau bersungguh-sungguh hendak mencapai dunia dengan perhiasan itu ; dengan pangkat yang tinggi, dengan mahkligai yang megah, dengan kekayaan yang berlimpah, dan kehormatan diri dan segala kelebihannya, semuanya itu akan engkau capai. Semuanya itu akan di berikan kepadamu.Tak usah khuwatir.

Tentu saja untuk mencapai dunia dengan perhiasan itu engkau menempuh jalanmu sendiri.’ Untuk mencapai tujuan , halal segala jalan.”Tentu engkau tenggang –menenggang dengan orang lain.yang engkau citakan itu akan tercapai!

“Mereka itulah orang-orang yang tidak akan ada untuk mereka (bahagian) di akhirat.” ( pangkal ayat 16).

Mengapa tidak? Orang yang akan mendapat kebahagiaan di akhirat adalah orang yang menjadikan perjuangan dunia itu untuk akhirat. Orang yang sejak semula sudah meniatkan bahwa dunia yang di kejarnya itu ialah untuk dia mananam amal. Dan hasil amalnya itu disengajanya untuk diterimanya di akhirat. Adapun kalau yang di kejar hanya semata dunia, tidaklah ada bahagiaannya lagi di akhirat.

Berkata Qatadah: “Barang siapa yang tujuan , cita-cita dan niatnya hanya dunia, akan didapatnya ganjarannya di dunia ini juga. Kemudian setelah sampai ke hari akhirat, tidaklah segala perbuatannya itu dapat penghargaan apa-apa, walaupun pada lahir kelihatan baik. Tetapi kalou orang mu’min yang berbuat baik, di dunia dia dapat ganjaran dan di akhirat mendapat pahala.” Ditegaskan dalam surat 17 (al-isra’, ayat 18dan 19), Yaitu barang siapa yang ingin menerima ganjaran yang cepat (yaitu dunia) akan kami cepatkan untuknya apa yang kami khndaki. Kemudian itu kami sediakan jahannam untuk membakar, dalam keadaan tercela dan tersunggku. Tetapi barang siapa yang inginkan akhirat, lalu dia berusaha menempuh jalannya, dan dia pun beriman. Maka segala usaha mereka itu mendapat ucapan terimakasih dan syukur dari Tuhan.

F. Al-Quran Surat az-Zumar ayat 9

9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Penafsirannya

Allah SWT berfirman. “ Apakah orang yang tekun beribadat di waktu-waktu malam bersujud dan berdiri seraya hatinya penuh rasa takut dari azab akhirat di samping harapan memperoleh rahmat Tuhannya, apakah orang yang sikapnya demikian itu dapat disamakan dengan orang yang musyrik yang mengada-ngadakan sekutu bagi Allah? Tentu saja tidak sama dan jauh berbeda, sebagian juga orang yang mengetahui tidaklah sama kedudukannya di dunia maupun di akhirat, di hadapan sesame manusia ataupun di sisi Allah.

Diriwayatkan oleh Imam Abd bin Hamid dari Anas bin Malik ra bahkan Rasululah saw bertanya kepada seorang sahabat yang di jenguknya dalam keadaan sakit.yang artinya: “Bagaimana keadaanmu hari ini?” Tanya Rasululah saw.kepada sahabatnya yang sedang sakit mendekati ajalnya. Si sakit pun menjawab, “pikiranku terombang-ambing oleh rasa harap dan takut; mengharap rahmat Tuhan dan takut oleh siksa-Nya. Kemudian bersabda Rasululah saw. “Tidak seorang hamba Allah yang dalam hatinya terdapat dua perasaan itu, melainkan Allah akan memberikan apa di harapkan dan menyelamatkan dari apa yang di takuti.”

BAB III

KESIMPULAN

Dengan penafsiran para mufasir terhadap ayat di atas,penulis dapat simpulkan bahwa semua pembahaasan dari ayat tersebut mengarah kepada kehidupan akhirat dimana kebahagiaan akhirat tidak bisa didapat apabila manusia ketika hidup di dunia menolak atau tidak mengikuti ajakan Rasulullah untuk berkorban harta dan jiwa dalam menegakkan visi dan misi al-Islam.

Diayat pertama Allah menggambarkan orang yang hidup terus-menerus berusaha untuk memadamkan perjuangan Nabi Musa, oleh karena itu mereka tidak akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat karena perbuatannya itu. Dan di ayat selanjutnya Allah menggambarkan orang-orang yang diajak berjuang tetapi mereka melalaikan ajakan tersebut. Mereka tidak akan mendapatkan kebahagiaan di dunia harta mereka yang mereka cari akan di tinggalkan sedangkan akhiratpun tidak mendapatkan apa-apa.

Intinya barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat maka mereka harus beramal yaitu dengan melanjutkan visi misi Rasulullah sampai Islam itu menang, dan tinggi tidak aka ada yang mengalahkan ketinggiannya itu.

0 komentar:

Poskan Komentar